International Media

Minggu, 2 Oktober 2022

Minggu, 2 Oktober 2022

Rusia Dituduh Gunakan Pemerkosaan sebagai Taktik Perang

Jaksa Agung Ukraina Iryna Venediktova.

IRPIN – Jaksa Agung Ukraina Iryna Venediktova menuduh Rusia menggunakan pemerkosaan sebagai taktik perang. Dia juga menggambarkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai penjahat perang utama abad ke-21.
Rusia sebelumnya membantah menyasar warga sipil dan menolak tuduhan bahwa pasukannya telah melakukan kejahatan perang di Ukraina. Kremlin belum menanggapi permintaan untuk mengomentari tuduhan tersebut dan telah menolak sejumlah pernyataan sebelumnya yang menyebut bahwa Putin adalah penjahat perang.
Saat mengunjungi kota Irpin yang hancur di dekat Kiev, Jaksa Agung Iryna Venediktova mengatakan Ukraina sedang mengumpulkan informasi tentang tuduhan pemerkosaan, penyiksaan, dan dugaan tindakan kejahatan perang lainnya oleh pasukan Rusia. Venediktova mengatakan tuduhan terhadap Rusia itu termasuk pemerkosaan terhadap sejumlah wanita, pria, dan anak-anak serta seorang wanita tua.
Saat ditanya apakah pemerkosaan adalah strategi yang sengaja dilakukan Rusia dalam perang, Venediktova memberi jawaban. “Saya yakin sebenarnya itu adalah strategi. Ini, tentu saja, untuk menakut-nakuti masyarakat sipil, untuk melakukan segala upaya untuk (memaksa Ukraina) menyerah,” katanya dalam jumpa pers.
Namun, Venediktova tidak memberikan rincian tentang tuduhan pemerkosaan itu dengan alasan bahwa beberapa korban masih berada di Ukraina dan takut berbicara karena khawatir pasukan Rusia kembali. Dia menyebut Putin sebagai panglima angkatan bersenjata Rusia memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi di Ukraina.
“Putin adalah penjahat perang utama abad ke-21,” kata Venediktova.
Dia merujuk pada intervensi militer Rusia di satu negara bekas pecahan republik Soviet, Georgia, di wilayah Chechnya Rusia, di Suriah dan di Ukraina pada 2014.
“Jika kita berbicara tentang kejahatan agresi, kita semua tahu siapa yang memulai perang ini, dan orang ini adalah Vladimir Putin,” ujarnya.
Pada Maret, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak komentar Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang menyebut Putin sebagai penjahat perang.
Sementara itu, di tempat yang terpisah, Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh Israel mendukung gerakan neo-Nazi di Ukraina. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan perselisihan yang dimulai ketika Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyatakan bahwa Adolf Hitler memiliki asal-usul Yahudi.
Menteri Luar Negeri Israel, Yair Lapid, mengatakan, pernyataan Lavrov terkait Hitler yang memiliki darah Yahudi adalah “tidak termaafkan”.
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Selasa (3/5) mengatakan, komentar Lapid adalah “anti-historis”. Kementerian menjelaskan alasan pemerintah Israel saat ini mendukung rezim neo-Nazi di Ukraina. Moskow menegaskan kembali poin Lavrov bahwa, Presiden Volodymyr Zelenskyy yang merupakan seorang Yahudi tidak menghalangi Ukraina untuk dijalankan oleh neo-Nazi.
“Antisemitisme dalam kehidupan sehari-hari dan dalam politik tidak dihentikan dan sebaliknya dipupuk (di Ukraina),” ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, dilansir Aljazirah, Rabu (4/5).
Israel telah menyatakan dukungan untuk Ukraina setelah Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari lalu. Namun Israel tetap bersikap hati-hati karena tidak ingin merusak hubungan dengan Rusia, yang menjadi perantara kekuasaan di Suriah. Israel menghindari kritik langsung terhadap Moskow, dan belum memberlakukan sanksi formal terhadap oligarki Rusia.
Israel telah mengirim bantuan kemanusiaan ke Ukraina dan menyatakan dukungan untuk rakyatnya. Tetapi pemerintah tidak ikut menjatuhkan sanksi internasional terhadap Rusia. Namun, hubungan Israel dan Rusia semakin tegang ketika Lapid bulan lalu menuduh Rusia melakukan kejahatan perang di Ukraina.
“Setelah Kremlin mengklaim bahwa Israel mendukung Nazisme, saya hanya punya satu pertanyaan. Apakah ada negara non-Nazi di seluruh dunia dalam sudut pandang Rusia? Kecuali Suriah, Belarusia, dan Eritrea,” ujar penasihat presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak yang menyebutkan negara-negara yang telah mendukung operasi khusus Rusia Ukraina.
Nazisme telah menonjol dalam tujuan dan narasi perang Rusia di Ukraina Presiden Rusia, Vladimir Putin telah menggambarkan pertempuran itu sebagai perjuangan melawan Nazi di Ukraina, meskipun negara itu memiliki pemerintahan yang dipilih secara demokratis dan seorang presiden Yahudi yang kerabatnya terbunuh dalam peristiwa Holocaust.
Putin merujuk kehadiran sejumlah unit seperti batalyon Azov di dalam militer Ukraina, sebagai salah satu alasan untuk meluncurkan operasi militer khusus. Azov adalah unit militer infanteri sukarelawan sayap kanan yang didirikan pada 2014 untuk memerangi separatis pro-Rusia di wilayah Donbas, di Ukraina timur. Anggota Azov awalnya adalah ultranasionalis dan dituduh menyembunyikan ideologi supremasi kulit putih dan neo-Nazi. Unit ini telah dimasukkan ke dalam Garda Nasional Ukraina.

Frans Gultom

Komentar

Baca juga