Rumah Sakit Brasil Kekurangan Obat

RIO DE JANEIRO(IM)- Petugas medis di Brasil dilaporkan harus melakukan intubasi terhadap pasien di berbagai rumah sakit tanpa bantuan obat penenang. Hal ini terjadi di Tengah wabah virus korona yang menyebabkan infeksi penyakit semakin meningkat di negara itu.
Salah satu laporan datang dari petugas kesehatan di Rio de Janeiro. Mereka mengatakan selama berhari-hari harus mengencerkan obat penenang agar persediaan bisa bertahan lebih lama.
Setelah habis, perawat dan dokter harus mulai menggunakan penghambat neuromuskuler dan mengikat pasien ke tempat tidur mereka. “Anda mengendurkan otot dan melakukan prosedur dengan mudah, tetapi kami tidak memiliki obat penenang. Beberapa pasien secara reflek mencoba berbicara dan melawan karena mereka sadar, ” ujar salah satu dokter di Rio de Janeiro yang berbicara dengan syarat anonim, dilansir Huff Post, Minggu (18/4).
Kurangnya obat-obatan yang dibutuhkan menjadi masalah terbaru yang menimpa Brasil akibat pandemi Covid-19. Jumlah kematian harian rata-rata akibat kasus penyakit ini mencapai 3.000 kasus.
Alat intubasi yang dibutuhkan rumah sakit diantaranya termasuk anestesi, sedatif, dan obat lain yang digunakan untuk memasang ventilator pada pasien dengan kondisi sakit parah. Kantor sekretariat kesehatan Rio de Janeiro mengatakan kekurangan di fasilitas medis Albert Schweitzer disebabkan kesulitan mendapatkan pasokan di pasar global.
Ia tidak mengomentari perlunya mengikat pasien ke tempat tidur saat kondisi obat penenang tidak ada. Mentor Kesehatan untuk Sao Paulo Jean Carlo Gorinchteyn, mengatakan pada konferensi pers beberapa waktu lalu situasi di banyak rumah sakit di negara bagian itu sangat mengerikan.
Lebih dari 640 rumah sakit berada di ambang kehancuran, dengan kemungkinan kekurangan sumber daya dan ketersediaan karena jumlah pasien yang terus meningkat. “Kami membutuhkan dukungan pemerintah federal. Ini bukanlah keharusan bagi Sao Paulo, tapi kebutuhan bagi seluruh negeri,” jelas Gorinchteyn.
Banyak pejabat Sao Paolo yang telah mengirim setidaknya sembilan permintaan untuk pengobatan intubasi ke Kementerian Kesehatan Brasil selama 40 hari terakhir. Pengiriman terakhir dilaporkan hanya cukup untuk enam persen dari kebutuhan bulanan di jaringan kesehatan masyarakat negara bagian itu.
Sementara itu, di Itaiopolis, negara bagian Santa Catarina juga ini melaporkan kekurangan obat penenang dan oksigen. Negara bagian Rio Grande do Sul yang berada tidak jauh dari wilayah itu juga melaporkan persediaan hampir habis.
“Situasinya membuat kami putus asa,” kata Menteri Kesehatan Rio Grande do Sul, Arita Bergmann, dalam sebuah pernyataan.
Bergmann mengatakan sangat membutuhkan Kementerian Kesehatan Brasil untuk mengisi kembali persediaan rumah sakit atau kebutuhan pasien yang diintubasi. Bulan lalu, Kementerian Kesehatan meminta obat intubasi dari laboratorium, yang dilaporkan menjadi sarana mendistribusikan obat ke rumah sakit yang paling membutuhkan.
Kekurangan tidak terbatas pada rumah sakit umum di Brasil, namun juga swasta. Sembilan dari 71 rumah sakit swasta di negara Amerika Selatan itu melaporkan hanya memiliki setidaknya pasokan untuk lima hari ke depan.
Rumah sakit swasta mengatakan ingin mengimpor obat-obatan dari India untuk mengatasi masalah tersebut. Meski demikian, langkah ini masih membutuhkan persetujuan sesuai regulasi kesehatan Pemerintah Brasil.****

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp