Revitalisasi Terminal Baranangsiang Bogor Dimulai Tahun Depan

Terminal Baranangsiang Bogor.

BOGOR- Revitalisasi Terminal Baranangsiang ditargetkan dimulai pada tahun 2022 yang sebelumnya tertunda 9 tahun. Rencananya, Baranangsiang tak hanya berfungsi sebagai terminal, tetapi juga menjadi bagian kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang terintegrasi dengan kawasan komersial.

Direktur PT Pancakarya Grahatama Indonesia (PGI), Sumarsono Hadi mengatakan, pengembangan terminal Baranangsiang memang sempat tertunda selama sembilan tahun. Dalam surat keputusan yang lama, PGI mendapatkan jatah selama 30 tahun sebagai hak untuk mengelola terminal.

Namun, karena hingga kini pembangunan pengembangan terminal Baranangsiang tak kunjung terealisasi, dirinya pun berupaya untuk menggeser waktu pengelolaan terminal yang mulanya dihitung pada 2012, kini bergeser menjadi 2021.

“Apakah bisa yang 30 tahun digeser? Dari awalnya 2012 digeser starting-nya (mulainya) menjadi 2021,” paparnya, Senin (5/4).

Sumarno mengatakan, saat ini permasalahan tersebut sudah mendapatkan titik terang. Berdasarkan hasil Legal Opinion (LO) dari Kejaksaan Agung (Kejagung), PGI mendapatkan jatah untuk mengelola Terminal Baranangsiang selama 30 tahun secara utuh. Untuk memulai pembangunan, pihak kontraktor masih menunggu pembaruan IMB.

Sumarno menambahkan, pembangunan terminal sendiri secara utuh membutuhkan waktu selama empat tahun lamanya. Ia pun menargetkan dengan penyesuaian izin mendirikan bangunan (IMB) rampung, maka pembangunan dapat dilakukan pada tahun depan.

Revitalisasi Terminal Baranangsiang Bogor yang akan dilaksanakan sejalan dengan amanat yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) 55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) tahun 2018-2029.

Selain itu, pergeseran waktu pengelolaan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik daerah atau lebih dikenal BGS.

“Dan setelah kami berkonsultasi dengan berbagai pihak, akhirnya bisa digeser,” kata Sumarno.

Ke depan, kata dia, bagaimana melakukan upaya percepatan untuk merealisasikan pengembangan terminal Baranangsiang menjadi kawasan TOD.

Selain menunggu pembaharuan IMB, Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) pada 2012 dengan kondisi dan fungsi saat ini berbeda, salah satunya dengan keberadaan ojek online.

Pemkot Bogor berencana meletakkan ujung lintas rel terpadu (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek) dan trem di kawasan Baranangsiang.

Bahkan, tidak jauh dari Baranangsiang juga terdapat Tol Jagorawi. Sehingga bisa dipastikan pusat transportasi bakal bertumpu di kawasan tersebut. “Tentunya harus ada penyesuaian fungsi-fungsi terhadap rancang bangun,” katanya.

Sumarno berharap, rencana tersebut mendapatkan persetujuan dari kepala daerah Kota Bogor.

Sedangkan syarat teknis yang disampaikan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), PGI hanya mengikuti saja.

“PT PGI hanya tingal desain saja. Kalau bisa cepat, kami juga siap gambar desain, hitung berapa kontribusi untuk negara, begitu ditetapkan bisa,” tegasnya.

Sebelumnya, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek mulai menjalin kembali komunikasi terkait dengan rencana pembangunan Terminal Tipe A Baranangsiang, Kota Bogor.

Rencananya, terminal yang berada di tengah Kota Bogor itu akan dibangun menjadi kawasan berorientasi Transit Oriented Development (TOD). ***

Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp