Resmi Dilantik, DPP Dharmapala Nusantara Siap Berperan Aktif Membangkitkan Kearifan Lokal untuk Indonesia Maju

Serah terima jabatan dari pimpinan sidang ke ketua terpilih.

JAKARTA–Umat Buddha dari berbagai aliran dan organisasi turut menjadi saksi lahirnya sebuah organisasi baru yang diberi nama Dharmapala Nusantara FABB.

Singkatan FABB merupakan sebuah pengingat pada sejarah perjuangan umat Buddha melawan keangkuhan kapitalisme yang menggunakan nama Buddha sebagai nama sebuah bar.

Serah terima tanda daftar organisasi.

Sesuatu yang tentu melanggar peraturan perundangan di Indonesia yang berketuhanan yang maha esa, selain juga melanggar undang-undang merk.

          Berpakaian seragam hitam dengan variasi coklat keemasan, dilengkapi dengan udeng khas Sunda, para pengurus pusat DN FABB tampil kompak selama prosesi pelantikan.

Ketua Umum terpilih Kevin Wu dalam sambutannya mengungkapkan pelajaran penting yang diperoleh umat Buddha dari perjuangan menolak keberadaan Buddha Bar adalah bukan soal menang atau kalah, juga bukan gagah-gagahan, tapi soal kejernihan mendengar suara nurani, keberanian memperjuangkan dan menegakkan kebenaran, dan keadilan.

          Kevin juga menyatakan DN FABB menyadari bahwa permasalahan tidak hanya berhenti pada satu kasus tersebut di atas, masih banyak permasalahan lokal maupun nasional yang dihadapi umat beragama di Indonesia.  

Kasus Ibu Meliana yang rumahnya dibakar karena obrolan antartetangga tentang suara speaker, kasus penurunan patung Buddha dari lantai atas vihara di Tanjung Balai Karimun.

Lalu Tugu Masyarakat Adat Sunda Wiwitan yang disegel, Acara Sedekah Laut yang dirusak oleh segelintir orang, dan masih banyak kasus lainnya.

Kemana mereka harus mengadu? Siapa yang harus membela dan menyuarakan? Karena itu ia menyerukan kepada seluruh organisasi Buddhis untuk meningkatkan kontribusinya bagi kepentingan bangsa dan negara, dan tinggalkan bangku penonton.

Jajaran pengurus DN FABB berfoto bersama tokoh dan pemuka agama Buddha.

          DN FABB berharap agar organisasi Buddhis lainnya tidak menganggap DN sebagai pesaing, tapi jadikanlah teman bersanding.

“Kami ini ibaratnya platform yang akan menjadi hub atau tempat bertemunya berbagai elemen untuk tujuan bersama yang lebih besar, mewujudkan Indonesia maju,” ujar Kevin, dalam siaran pers, Senin (22/3).

Ada pun prosesi pelantikan dilakukan sesuai protokol kesehatan, pada Jumat (19/3), diikuti para undangan melalui media daring.

Laporan World Economic League Table (WELT) yang dirilis CEBR Sabtu (26/12/2020) memperkirakan pada 2035 ekonomi RI akan berada pada peringkat ke-8 terbesar dunia, mengalahkan Brasil, Rusia, Korea Selatan, Kanada, Spanyol, Italia, dan Australia.

Indonesia akan menjadi pemain penting dunia, dan ini hanya dapat diwujudkan oleh suatu bangsa yang bersatu, berkarakteristik kuat yang bersumber dari budaya bangsa sendiri.

Jadi sudah selayaknya menurut Kevin, aktivis dan umat Buddha Indonesia berperan aktif membangkitkan kembali kearifan lokal budaya bangsa ini, guna menyongsong Indonesia Emas, Indonesia Maju.

Pada kesempatan tersebut Kevin juga mengutip kata-kata terakhir Buddha yaitu Vayadhamma Sankhara, Appamadena Sampadetha yang diterjemahkan segala hal yg terkondisi pasti akan hancur, berjuanglah dengan penuh kesadaran.

          Hadir pada pelantikan para pengurus yang terbagi dalam 4 departemen yaitu Advokasi, Kaderisasi, Media Komunikasi dan Informasi, dan Keumatan.

Dirjen Bimas Buddha, Caliadi SH, MH yang juga hadir  menyampaikan harapannya setelah pelantikan, para aktivis DN FABB benar-benar menjaga komitmennya dan berjalan sesuai undang-undang yang berlaku.

Selain Dirjen, tokoh nasional lain juga memberi sambutan diantaranya Sudhamek AWS yang juga duduk sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, yang juga berbagi kisahnya terkait FABB pada masa menentang keberadaan Buddha Bar.

Selain itu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan menyampaikan apresiasi dan harapannya pada keberadaan DN FABB agar dapat menjadi organisasi yang dapat dibanggakan dan berguna, tidak hanya bagi komunitas Buddhis, tapi juga bagi bangsa dan negara. ***

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp