Realisasi Investasi RI di Kuartal I-2021 Mencapai Rp219,7 T

Bahlil Lahadalia. (dok.BKPM)

JAKARTA – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi Indonesia di kuartal I-2021 mencapai Rp219,7 triliun,  naik 2,3% secara kuartalan dan naik 4,3% secara tahunan.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyampaikan, target investasi Indonesia pada tahun 2021 ditetapkan Rp860 triliun berdasarkan data dari Bappenas. Namun, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta target tersebut menjadi Rp900 triliun.

“Di kuartal I-2021 realisasi investasi kita Rp219,7 triliun dari target Rp860 triliun, namun presiden memerintahkan BKPM target Rp900 triliun, ini bukan pekerjaan yang gampang. Tumbuh secara qtq 2,3%, dan yoy 4,3%,” kata Bahlil  dalam keterangannya via video conference, Senin (26/4).

Ia menyebut, dari total investasi yang mencapai Rp219,7 triliun,  terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp108,0 triliun atau setara 49,2% dan penanaman modal asing (PMA) sekitar Rp111 triliun atau setara 50,8%

“Sementara penyerapan tenaga kerja mencapai 311.793 orang,” ungkap Bahlil.

BKPM juga mencatat, Singapura masih menjadi negara terbesar yang berinvestasi di Indonesia. Realisasi investasi mencapai Rp219,7 triliun pada kuartal I-2021, dan Singapura nilai investasinya mencapai US$2,6 miliar.

“Singapura belum tergoyahkan, dalam sejarah, memang Singapura ini menjadi hub bagi beberapa negara lain,” kata Bahlil.

Negara terbesar selanjutnya adalah RRT dengan nilai US$1,03 miliar. Setelah itu baru Korea Selatan di posisi ketiga dengan nilai US$851,1 juta. Posisi keempat ada Hong Kong dengan nilai US$822,1 juta, dan kelima ada Swiss dengan nilai US$466,2 juta.

“Korea Selatan nah biasanya di nomor 5 atau nomor 6 kali ini di nomor 3 menggeser Hong Kong,” urainya.

Sementara penyebaran di dalam negeri, Bahlil menyebut sudah terjadi pemerataan. Di mana, realisasi investasi saat ini lebih banyak tersebar di luar Pulau Jawa dibandingkan dengan Pulau Jawa.

Dari realisasi Rp219,7 triliun, yang masuk ke luar Jawa sebesar 52,1% atau Rp114,4 triliun, sementara di Jawa 47,9% atau Rp105,3 triliun.

“Saya kemarin sampaikan dalam sejarah baru pertama terjadi pasca reformasi bahwa realisasi investasi untuk di luar Pulau Jawa itu baru terjadi di kuartal IV-2020, selisihnya sekitar 0,5%, di tahun 2021 kuartal I selisihnya sudah melebar ke 52,1%, tumbuh YoY sebesar 11,7%, sementara di Jawa 47,8% YoY turun minus 2,7%,” jelasnya.

Tingginya angka penanaman modal asing, dikatakan Bahlil mengindikasikan terjadinya pemerataan ekonomi di luar Pulau Jawa. Menurut dia, tingginya realisasi PMA juga tidak terlepas dari gencarnya pembangunan infrastruktur nasional.

“Pertumbuhan investasi di luar Jawa itu mengindikasikan pemerataan pertumbuhan di kawasan luar Pulau Jawa itu sudah semakin baik, dan ini tidak terlepas dari apa yang dilakukan Pak Presiden Jokowi-JK dalam 5 tahun kemarin dalam rangka pembangunan infrastruktur,” katanya.

Ia juga menambahkan, hal itu juga menunjukkan kepercayaan dunia kepada Indonesia dan aktivitas PMA  sudah mulai normal, sudah bisa melakukan adaptasi terhadap perkembangan pandemi Covid-19.

BKPM juga mencatat, meningkatnya realisasi investasi pada kuartal I-2021 ditopang tumbuhnya investasi sektor industri.

 Bahlil  mengatakan, hal ini sejalan dengan apa yang diinginkan Presiden Jokowi terkait transformasi ekonomi.

“Transformasi ekonomi itu ending adalah bagaimana kita memberikan nilai tambah yang diawali Industrialisasi. Industri kita tumbuh atau tidak terpotret dari alokasi potensi investasi yang masuk,” ujar Bahlil 

Di posisi pertama, terbesar masih tercatat di sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran yang mencapai Rp29,4 triliun.

Kemudian ditempat kedua diduduki oleh industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya. Di mana sektor ini mampu tumbuh dan tercatat sebesar Rp27,9 triliun.

“Ini untuk pabrik untuk industri ini naik luar biasa sekali kedua. biasanya di peringkat kelima atau keenam,”ujarnya.

Posisi ketiga diduduki oleh sektor transportasi, gedung dan telekomunikasi senilai Rp25,6 triliun. Keempat diikuti oleh industri makanan dan minuman yang berhasil memperoleh Rp21,7 triliun, serta listrik, gas dan air senilai Rp20,2 triliun.

“Di era pandemi ini sektor mamin tumbuh luar biasa,” tandasnya. ***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp