International Media

Minggu, 22 Mei 2022

Minggu, 22 Mei 2022

Racun Lebah Madu Diklaim Bisa Sembuhkan Kanker Payudara

Racun dari lebah madu bisa membunuh sel kanker payudara.

JAKARTA (IM)– Studi terbaru dari Harry Perkins Institute of Medical Center Australia menemukan bahwa racun dari lebah madu bisa membunuh sel kanker payudara. Para ilmuwan menguji racun dari 300 lebah madu dan lebah bumblebee terhadap dua jenis kanker payudara yang agresif dan sulit diobati yaitu triple negative dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) positif.
Mereka menemukan bahwa senyawa dalam racun yang disebut melittin dapat menghancurkan sel kanker payudara dalam waktu satu jam, tanpa menyebabkan kerusakan pada sel lain. Peneliti juga menemukan bahwa ketika digunakan bersama dengan obat kemoterapi, melittin membantu membentuk pori-pori di membran sel kanker yang berpotensi memungkinkan terapi berjalan dengan lebih baik.
Walaupun uji klinis penelitian ini hanya dilakukan di laboratorium, para peneliti percaya senyawa tersebut dapat direproduksi secara sintetis sebagai pengobatan untuk kanker payudara. Namun menurut peneliti kanker payudara di Moffitt Cancer Center, Dr Marilena Tauro, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan sebelum akhirnya hasil temuan menjadi terapi yang layak.
“Kabar baiknya adalah penelitian ini menunjukkan bahwa melittin dapat mengganggu jalur sinyal pada sel kanker payudara yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan dan penyebaran penyakit,” kata Tauro seperti dilansir dari The Brighter Side, Kamis (7/4)
“Namun, walaupun senyawa telah terbukti berhasil membunuh sel kanker di laboratorium atau model hewan, butuh bertahun-tahun untuk mempraktikkan temuan itu ke pasien,” tambah dia.
Tauro menjelaskan bahwa sekitar setengah dari total obat kanker saat ini berasal dari produk alami. Ini menunjukkan potensi penggunaan racun lebah untuk penemuan obat.
“Alam adalah pemasok elemen aktif yang hebat dan sintesis kimia telah memungkinkan untuk menyediakan banyak obat yang berasal dari alam dalam dosis yang diperlukan untuk penggunaan terapeutik, meskipun pasokan dari sumber aslinya seringkali sangat terbatas,” jelas Tauro.***

Frans Gultom

Komentar