International Media

Minggu, 22 Mei 2022

Minggu, 22 Mei 2022

Putra Diktator Marcos Menang Telak di Pilpers Filipina

Ferdinand Marcos Jr, putra mendiang diktator Ferdinand Marcos

MANILA -Ferdinand Marcos Jr, putra mendiang diktator Ferdinand Marcos, menang telak dalam pemilihan presiden atau pilpres Filipina, Selasa (10/5). Dalam versi penghitungan cepat kemarin, ia meraup lebih dari 90 persen suara.
Ferdinand “Bongbong” Marcos Junior telah mendapatkan hampir 30 juta suara, lebih dari dua kali lipat dibandingkan saingan terdekatnya, Leni Robredo yang menjabat sebagai Wakil Presiden Filipina saat ini. Robredo dikenal sebagai pengacara pembela hak asasi manusia.
Keunggulan yang tak tergoyahkan itu menunjukkan perubahan haluan yang mencengangkan bagi nasib klan Marcos. Keluarga diktator Marcos terusir dari istana presiden setengah abad yang lalu. Pada 1986, ibu negara senior Imelda Marcos diasingkan melalui revolusi “Kekuatan Rakyat”.
Dalam hasil jajak pendapat pilpres Filipina sebelumnya, Marcor Jr. unggul dibandingkan Robredo, yang bersekutu dengan gerakan yang menggulingkan kediktatoran ayahnya pada 1986. Empat tahun setelah jatuh, keluarga Marcos kembali ke Filipina dari pengasingan dan memulai kembali debut politiknya.
Pemungutan suara juga merupakan kesempatan bagi Marcos untuk membalas kekalahannya dari Robredo dalam pemilihan wakil presiden 2016. Saat itu ia kalah tipis dengan selisih 200.000 suara.
Saingan Ferdinand Marcos Jr., Robredo adalah seorang pengacara dan ekonom berusia 57 tahun. Dalam kampanyenya ia berjanji membersihkan gaya politik kotor yang telah lama mengganggu demokrasi feodal dan korup, di mana segelintir nama keluarga memegang kendali.
“Ini persimpangan jalan lain bagi kami. Kita harus terus berdiri dan berjuang,” kata Judy Taguiwalo (72), seorang aktivis anti-Marcos yang ditangkap dua kali dan disiksa.
Presiden terpilih akan menjalani masa jabatan mulai 30 Juni 2022 selama enam tahun. Sederet masalah besar telah menanti termasuk ekonomi yang dilanda pandemi, kemiskinan yang parah, dan warisan dari tindakan keras anti-narkoba brutal oleh presiden sebelumnya Rodrigo Duterte.
Selain kursi kepresidenan, lebih dari 18.000 jabatan pemerintah diperebutkan, termasuk setengah dari 24 anggota Senat, lebih dari 300 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat, serta kantor-kantor provinsi dan lokal di seluruh Filipina. Sekitar 67 juta telah mendaftar untuk memberikan suara selama pemungutan yang berlangsung 13 jam tersebut.
Sementara itu, Kembalinya dinasti Marcos ke panggung politik Filipina tak bisa dipisahkan dari nama besar sang ayah, Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr (11 September 1917 – 28 September 1989). Marcos adalah Presiden kesepuluh Filipina, yang menjabat dari 30 Desember 1965 hingga 25 Februari 1986.
Masa pemerintahan Marcos sering disebut sebagai masa kediktatoran di Filipina. Sebab memerintah dengan tetap berkuasa dalam waktu lama dengan menggunakan hukum darurat militer sebagai alat untuk menekan kelompok kritis.
Di masa pemerintahan Marcos jugalah korupsi merajalela. Sang isteri, Imelda Marcos, dikenal suka foya-foya. Perhiasan mewah dan ribuan pasang sepatu adalah koleksi kesukaannya. Melansir Kompas.com pada 2019, terkait koleksinya, pemerintah Filipina telah memberi lampu hijau untuk menjual perhiasan Imelda.
Penjualan perhiasan tersebut diyakini akan menguntungkan bagi publik. Badan pemulihan aset pemerintah mendesak persetujuan Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk menjulan salah satu dari tiga set perhiasan yang disita pada tiga dekade lalu.
Puncak kejengkelan masyarakat Filipina kala itu terjadi ketika lawan politiknya, Benigno Aquino, tewas ditembak pada 21 Agustus 1983.
Benigno Aquino ditembak saat baru saja tiba di tanah airnya, setelah tiga tahun tinggal di pengasingan di Amerika Serikat. Peristiwa pembunuhan ini dikaitkan dengan kekuasaan Marcos yang ingin menyingkirkan lawan-lawan politiknya.
“Saya menduga bakal ada ancaman bahaya jika saya kembali, karena tentu kalian tahu pembunuhan saat ini sedang merajalela,” ujar Aquino kepada wartawan dalam perjalanan di pesawat sebelum tiba di Manila, seperti dimuat BBC on This Day pada 1983 silam.
Namun kematian Ninoy, sapaan Aquino, justeru membangkitkan perlawanan rakyat. Isteri Ninoy yaitu Corazon Aquino memimpin perlawanan.
Istana Malacanang diserbu massa pada 25 Februari 1986, Marcos dan keluarganya pergi dengan helikopter AS ke Pangkalan Udara Clark. Dari sana kemudia menuju Hawaii. Selama di pengasingan, sang diktator yang sudah kehilangan kuasa ini berupaya kembali ke tanah airnya.
Namun hingga kematiannya pada 1989, rakyat Filipina menolaknya kembali. Termasuk tak mengizinkan mayatnya di bawa pulang.
Hingga pada 2016, Presiden Rodrigo Duterte memberikan izin untuk pemakaman di kota kelahirannya, Batac, dengan menyebut Marcos merupakan seorang “serdadu Filipina”.
Penguburan jenazahnya dilakukan menyusul keputusan Mahkamah Agung yang mengizinkan untuk dipindahkan ke pemakaman umum. Hasil pemungutan suara memperlihatkan sembilan Hakim Agung mendukung pemakaman sebagai pahlawan sementara lima Hakim Agung menentangnya.
Rupanya, meski sudah dikubur dan kenangan kelam padanya masih melekat, tapi kekuatan sihir politik sang diktator belum sirna dari Filipina. Sebagian masyarakat masih menginginkan Marcos kembali.
Sebagian rakyat negara itu tampaknya ingin kembali ke “era emas” diktator ferdinand marcos dengan memilih putranya sebagai presiden.
Salah satu sihir politik yang digunakan Marcos saat berkuasa adalah “Bagong Lipunan” atau masyarakat baru”. Yaitu, “orang miskin dan kaya harus bekerjasama satu sama lain untuk menuju satu tujuan masyarakat dan mencapai kebebasan melalui kesadaran diri”.

Frans Gultom

Komentar

Baca juga