PTBA Anggarkan Rp3,8 Triliun untuk Hilirisasi Batu Bara

JAKARTA –  PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tahun ini  menganggarkan dana Rp3,8 triliun untuk hilirisasi batu bara. Upaya itu melalui proyek gasifikasi yang telah masuk dalam proyek strategis nasional (PSN).

Demikian disampaikan Direktur Utama PTBA, Arvian Arifin.  “Investasi di 2021 kita targetkan sebesar Rp3,8 triliun untuk hilirisasi,” kata Arvian Arifin dalam konferensi pers virtual, Jumat (12/3).

Ia optimis proyek itu akan memberikan dampak positif seperti menekan angka impor LPG, hingga menghemat cadangan devisa negara. Terlebih perjanjian kerja sama atau cooperation agreement antara PTBA, Pertamina dan Air Products Chemical Inc sudah ditandatangani pada 11 Februari 2021 sehingga gasifikasi diyakini bisa segera jalan.

“Batu bara ini bisa jadi produk Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti atau substitusi LPG, saya punya keyakinan proyek ini Commercial Operation Date (COD) di 2024,” ujar Arvian.

 Dua proyek PTBA yang masuk dalam PSN adalah hilirisasi gasifikasi batu bara di Tanjung Enim dan kawasan industri Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) – Tanjung Enim. “Artinya proyek ini mendapat dukungan secara khusus dari Pemerintah. Tujuannya adalah untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Perseroan membukukan laba bersih senilai Rp2,4 triliun sepanjang 2020. Besaran itu turun 41,16% secara tahunan  atau year on year (YoY) dibanding dengan laba bersih akhir Desember 2019 yang nilainya Rp4,05 triliun.

Arvian menilai perolehan laba itu sudah cukup baik bisa didapatkan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini terjadi karena ada penurunan konsumsi energi akibat diberlakukannya lockdown di beberapa negara tujuan ekspor seperti  RRT dan India.

“Di tengah kondisi ekonomi yang sulit PTBA masih bisa mencetak kinerja positif dengan pencapaian laba Rp2,4 triliun. Tentunya ini cukup menggembirakan karena di era pandemi ini banyak sekali usaha yang mengalami kesulitan dan alhamdulillah kita bisa keluar dari permasalahan keuangan perusahaan,” kata Arvian.

Dari sisi pendapatan, PTBA mengantongi Rp17,3 triliun. Aset perusahaan per Desember 2020 tercatat berada di angka Rp24,1 triliun, dengan komposisi kas setara kas dan deposito berjangka di atas 3 bulan sebesar Rp5,5 triliun atau 23% dari total aset.

 Turunnya harga batu bara selama 2020 juga menjadi tantangan tersendiri bagi perseroan. Seperti diketahui, harga batu bara acuan (HBA) berfluktuasi sepanjang 2020 yakni sempat US$65,93 per ton di awal Januari 2020 dan sempat menyentuh titik di bawah US$50 per ton pada September 2020.

Namun HBA mulai naik dalam 3 bulan terakhir di 2020 dan menyentuh angka US$59,65 per ton pada Desember 2020 karena mulai pulihnya permintaan batu bara di pasar global. Meskipun sepanjang 2020 disebut yang terendah selama 4 tahun terakhir dengan berada di level US$58,17 per ton.

“Langkah-langkah yang kita lakukan supaya tetap positif tidak ada hal lain, yaitu kita melakukan efisiensi di semua lini operasi yang akhirnya terasa dan terlihat di 2020,” ucapnya.

Sepanjang 2020, beban perusahaan mengalami penurunan. Beban pokok pendapatan turun Rp12,78 triliun dari Rp14,17 triliun, beban umum dan administrasi ditekan menjadi Rp1,43 triliun dari sebelumnya Rp1,93 triliun, juga beban penjualan dan pemasaran turun ke Rp692,32 miliar dari Rp828,67 miliar.

Arvian menyebut sepanjang 2020 PTBA mampu memproduksi 24,8 juta ton batu bara, atau 99% dari target yang telah disesuaikan menjadi 25,1 juta ton. Kapasitas angkutan batu bara tercatat mencapai 23,8 juta ton atau naik 3% dari target tahun ini, sementara kinerja penjualan batu bara terealisasi sebesar 26,1 juta ton atau naik 5% dari target 2020.

“Masih terjaganya kinerja operasional perusahaan sepanjang 2020 tak lain merupakan hasil dari penerapan operational excellence yang berkelanjutan dan perluasan pasar yang menjadi strategi perusahaan dalam menjalankan bisnis di tahun ini,” tandasnya. hen

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp