International Media

Minggu, 26 Juni 2022

Minggu, 26 Juni 2022

PSMTI Jabar Gelar Talk Show “Wawasan Kebangsaan”

Seluruh tokoh yang hadir dalam talk show berfoto bersama.

BANDUNG—PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) Jawa Barat, Kamis (16/6) lalu menyelenggarakan Talk Show bertajuk “Wawasan Kebangsaan” di auditorium lantai tiga sekretariat YDSP Bandung.

Talk show menghadirkan pembicara Kepala Badan Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) Jawa Barat Dr. Drs.H.R. IIP Hidajat, M.Pd dan pimpinan Forum Pembauran Kebangsaan Dra. Hj.Popong Otje D.

Di awal acara, Eddie Foe memimpin doa secara Islam. Dia berdiri dan menyanyikan lagu “Padamu Negeri”.

Kemudian Ketua PSMTI Suwanda Holy dalam pidatonya menyambut hangat dan berterima kasih kepada semua undangan yang hadir dalam acara Talk Show.

Suasana presentasi PSMTI Jabar.

Moderator Dr Djoni Toat, SH,MM dalam sambutannya menyatakan talk show ini berbicara tentang hak, tanggung jawab, kontribusi dan harapan orang Tionghoa Indonesia.

Acara talk show pun dimulai. Sesi pertama H.R. Iip Hidajat, MPd menyampaikan pertama, diawali dengan pertanyaan mengapa kita harus melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dia mengatakan Indonesia memiliki 17.000 pulau, 750 dialek bahasa serta memiliki banyak kelompok suku bangsa.

Momen acara presentasi.

Kita harus bangga bahwa negara kita masih bersatu. Provinsi Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk dan kelompok etnis terbesar, termasuk etnis Tionghoa. Kita harus bijak untuk menempatkan diri kita pada tempatnya. Dan tahu bagaimana menjadi warga negara yang baik. Kita beruntung memiliki lima dasar negara Pancasila,” ujarnya.

Pertama kita terlebih dulu menganalisa sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Warga negara Indonesia dapat memilih kepercayaan mereka secara bebas. Kemudian menjelaskan butir-butir sila pertama secara rinci satu persatu.

Dia juga menjelaskan bahwa wilayah Jawa Barat telah ada sejak zaman dahulu kala dan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Hingga zaman modern ini, masyarakat Jawa Barat bersikap ramah dan bersahabat serta menyambut hangat tamu dari berbagai daerah.

Hal ini sesuai dengan pemikiran tradisional orang Sunda yang Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh.

Para tamu yang hadir dalam talk show mengajukan pertanyaan.

Sedangkan pada sesi kedua, Dra. Hj. Popong Otje Djundjunan menyampaikan materi secara ringan dan penuh humor.

Dia menjelaskan ada sembilan orang tokoh cendekiawan saat Indonesia didirikan dan mereka semua sudah tiada. Tapi mereka meninggalkan empat keinginan: 1 untuk melindungi rakyat Indonesia, 2 untuk membuat rakyat Indonesia makmur, 3 untuk menginspirasi rakyat Indonesia menjadi bijak, dan 4 untuk menjaga perdamaian dunia.

Indonesia adalah negara yang unik, multi etnis, multi dialek dan negara multi budaya. Tapi ada banyak budaya asing yang telah melebur kedalamnya. Misalnya: atraksi barongsai dan liong. Itu budaya siapa? Siapa yang menampilkan tarian barongsai dan liong sekarang? Oleh sebab itu, tidak perlu lagi untuk dibedakan.

Sebagai warga negara, apapun suku kita, kita harus melindungi negara kita. Setiap orang melakukan tugasnya masing-masing untuk melaksanakan empat keinginan pendulu kita.

Dra. Hj.Popong Otje Djundjunan juga berbicara tentang pentingnya pendidikan,  keluarga, sekolah dan masyarakat. Meskipun memiliki perbedaan namun semuanya tidak dapat dipisahkan. Metode pendidikan modern bukan lagi cara menambah para pembebek atau pemaksaan. Melainkan tergantung pada bakat, minat dan hobi anak. Kemudian mengajar siswa sesuai dengan bakatnya.

Para tamu mengunjungi Museum Sejarah Etnis Tionghoa Bandung.

Kedua pembicara juga membicarakan isu-isu terkait hak dan kewajiban warga negara Tionghoa Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, selama masa pandemic Covid-19, para pengusaha Tiongkok, baik besar maupun kecil, kelompok maupun individu warga Tionghoa dengan murah hati menyumbangkan uang sekaligus menghabiskan tenaga dan waktu mereka untuk membantu orang lain. Terutama berbagai kegiatan amal yang dilakukan oleh MTP Bandung, PSMTI Jawa Barat dan organisasi lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan.

Kemudian dalam sesi tanya jawab, ada banyak orang mengajukan berbagai pertanyaan dan semuanya memperoleh jawaban mendetail dari kedua pembicara. Terakhir, Ibu

Pada akhirnya, Popong Otje Djundjunan mengakhiri dengan kalimat: “Jangan pikirkan apa yang telah saya berikan kemarin? Sebaliknya, pikirkan apa yang akan kita berikan hari ini?”

Sebelum talk show dimulai, PSMTI Jabar menyelenggarakan acara presentasi kepada anggota baru yang akan bergabung serta anggota PSMTI Bekasi yang akan dibentuk.

Mereka memberikan penjelasan secara rinci mengenai visi misi PSMTI dan lainnya. Sehingga para anggota baru tersebut memahami masyarakat seperti apa PSMTI tersebut dan apa saja kegiatannya.

Setelah itu, semua orang mendampingi para pembicara mengunjungi Museum Sejarah Etnis Tionghoa.

H.R. Iip Hidajat, MPd merasa amat gembira, karena setelah meninjau museum tersebut wawasannya terbuka dan dia mengetahui kontribusi etnis Tionghoa dalam pembangunan ekonomi dan bidang lainnya di Indonesia yang begitu besar. idn/din

Sukris Priatmo

Komentar

Baca juga