PSI Tolak Rencana Pemerintah Impor Beras

Plt.Ketua Umum PSI, Giring Ganesha


JAKARTA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan penolakan terhadap rencana pemerintah mengimpor beras. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSI Giring Ganesha. Menurut Giring, stok beras yang dimiliki RI masih aman dan tak lama lagi petani akan melakukan panen raya.

Melalui akun Twitter @psi_id, PSI mengungkap 4 alasan penolakan rencana impor beras. Pertama, impor beras seharusnya dilakuan dengan mempertimbangan waktu panen. PSI menilai, hingga bulan Juni stok beras masih aman karena dipotong panen April-Mei.

Kedua, Badan Urusan Logistik (Bulog) melaporkan kelebihan stok beras hingga ratusan ton. Ketiga, Indonesia memerlukan data tunggal dan kredibel soal produksi dan komsumsi beras. Semua kebijakan harus didasari data tersebut.
Terakhir, PSI mempertanyakan dasar dan pelaku impor beras, termasuk harga pembelian beras. Transparansi dinilai penting karena akan mencegah terjadinya korupsi.

Melalui keterangan tertulis, Koordinator Juru Bicara DPP PSI, Kokok Dirgantoro, juga mengungkapkan hal yang sama. Ia menyebut, partainya tidak anti-impor, tetapi penting bagi pemerintah untuk memperhatikan waktu pelaksanaan kebijakan tersebut.

“Sampai Juni stok kita masih aman karena ditopang panen April-Mei. Kalau mau impor, seharusnya dilakukan Juni-Agustus, atau Desember-Januari,”  ujar Kokok.

Secak mencuat rencana pemerintah untuk mengimpor beras ini langsung menekan harga gabah. Saat ini, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sejumlah wilayah sudah di bawah Rp 3.800 per kilogram. Angka ini merosot tajam dibandingkan September 2020 yang mencapai harga Rp 4.800 per kilogram.

“PSI akan mengerahkan semua struktur yang dimiliki di wilayah untuk mengecek harga gabah. Beberapa jaringan petani yang kami kontak memberikan informasi harga gabah cenderung rendah,” kata Kokok.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut impor beras perlu dilakukan pemerintah untuk menjaga stok beras nasional dan menstabilkan harga. Meski diprediksi akan terjadi kenaikan produksi beras sepanjang Januari hingga April 2021, Luffi menyebut hal itu baru bersifat ramalan

Lutfi mengatakan bahwa masih mungkin ada kenaikan atau penurunan produksi beras tersebut mengingat kondisi curah hujan yang tinggi di sejumlah daerah di Indonesia akhir-akhir ini.

 Ia juga mengatakan bahwa cadangan beras impor tidak akan digelontorkan ke pasar saat periode panen raya, tapi ketika terjadi kebutuhan mendesak seperti bansos ataupun operasi pasar untuk stabilisasi harga. “Kalau pun misalnya angka ramalannya memang bagus, tapi harga naik terus, itu kan mengharuskan intervensi dari pemerintah untuk memastikan harga itu stabil,” katanya dalam konferensi pers daring, Senin (15/3) lalu.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp