International Media

Senin, 23 Mei 2022

Senin, 23 Mei 2022

Pria Ini Dapat Ganti Rugi Rp6,4 M karena Pesta Ulang Tahun di Kantor

Ilustrasi

Seorang pria Kentucky, Amerika Serikat (AS) telah mendapatkan ganti rugi sebesar USD450.000  atau sekitar Rp6,4 miliar) setelah perusahaan tempatnya bekerjsa mengadakan pesta ulang tahun kejutan,  meski sebelumnya ia telah memperingatkan bahwa hal itu dapat memicu stres dan kecemasan.

Kevin Berling mengklaim bahwa pesta ulang tahun 2019 yang tidak diinginkan di perusahaannya Gravity Diagnostics menyebabkan dia mengalami serangkaian serangan panik. Berling menggugat perusahaannya, bahwa Gravity Diagnostic mendiskriminasi dia berdasarkan cacat yang dia derita.

Perusahaan telah membantah melakukan kesalahan. Menurut gugatan yang diajukan di Kentucky’s Kenton County, Berling, yang menderita gangguan kecemasan, telah meminta manajernya untuk tidak merayakan ulang tahunnya di tempat kerja seperti biasanya untuk karyawannya.

Dia mengatakan perayaan semacam itu berpotensi mengakibatkan serangan panik dan akan membawa kembali kenangan masa kecil yang tidak nyaman.

Terlepas dari permintaan Berling, perusahaan yang melakukan tes Covid-19 itu tetap mengadakan pesta kejutan pada Agustus 2019, memicu serangan panik. Dia dengan cepat meninggalkan pesta dan menghabiskan makan siangnya di mobilnya.

Gugatan itu mencatat bahwa Berling “dicecar dan dikritik” pada pertemuan keesokan harinya, di mana ia dituduh “mencuri kegembiraan rekan kerjanya” dan “cengeng”. Pertemuan yang menegangkan itu memicu serangan panik kedua, setelah itu perusahaan memulangkannya selama sisa tanggal 8 Agustus dan 9 Agustus.

Pada 11 Agustus, Gravity Diagnostics memecatnya, dengan alasan kekhawatiran tentang keselamatan tempat kerja. Gugatan Berling menuduh bahwa perusahaan mendiskriminasi dia karena cacat dan secara tidak adil membalas dia karena meminta agar permintaannya diakomodasi.

Setelah sidang dua hari pada akhir Maret, juri memenangkan gugatan Berling, memberinya USD450.000, termasuk USD300.000 untuk tekanan emosional dan USD50.000 dalam upah yang hilang.

BBC telah menghubungi Gravity Diagnostics dan seorang pengacara yang mewakili perusahaan untuk mengomentari hasil gugatan. 

Kepala operasional perusahaan, Julie Brazil, mengatakan kepada outlet berita lokal Link NKY bahwa Gravity Diagnostics mendukung keputusannya untuk memberhentikan Berling, yang katanya melanggar “kebijakan kekerasan di tempat kerja”.

“Karyawan saya adalah korban dalam kasus ini, bukan penggugat,” katanya sebagaimana dilansir BBC, seraya menambahkan bahwa perusahaan menentang putusan tersebut dan sedang mempertimbangkan banding.

Pengacara Berling, Tony Bucher, mengatakan kepada BBC bahwa “sama sekali tidak ada bukti” bahwa kliennya merupakan ancaman bagi siapa pun di Gravity yang membuatnya harus dipecat.

“Dia mengalami serangan panik. Itu saja. Dan, karena perwakilan dari Gravity Diagnostics tidak memahami respons paniknya dan terkesima dengan responsnya, mereka menganggap dia adalah ancaman,” kata Bucher.

“Mengasumsikan bahwa orang dengan masalah kesehatan mental berbahaya tanpa bukti perilaku kekerasan adalah diskriminatif.” Data dari National Alliance on Mental Illness menunjukkan bahwa lebih dari 40 juta orang Amerika – hampir 20% dari populasi – menderita gangguan kecemasan.***

Osmar Siahaan

Komentar