International Media

Jumat, 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022

PPATK Temukan Transaksi Judi di Dua Negara Terkait Lukas Enembe

Lukas Enembe.

JAKARTA – Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan (PPATK) menemukan aktivitas transaksi judi terkait tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Gubernur Papua, Lukas Enembe.

PPATK menyebut aktivitas transaksi judi ini ditemukan di dua negara.

“PPATK juga mendapatkan informasi bekerja sama dengan negara lain, dan ada aktivitas perjudian di dua negara berbeda,” kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana saat jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (19/9).

Menurutnya, hasil analisis tersebut telah diserahkan kepada lembaga antirasuah untuk dapat ditindaklanjuti sebagai barang bukti.

“Itu sudah PPATK analisis dan PPATK sampaikan kepada KPK,” ungkapnya.

PPATK juga telah melakukan pembekuan transaksi kepada 11 jasa penyedia keuangan terkait kasus ini.

“PPATK sudah melakukan pembekuan, penghentian transaksi kepada beberapa orang di 11 penyedia jasa keuangan. Ada asuransi, ada bank,” ujarnya.

Tak hanya itu, Lukas juga diketahui sempat membelikan jam tangan mewah senilai ratusan juta.

“PPATK juga menemukan adanya pembelian jam tangan dari setoran tunai tadi sebesar USD 55 ribu, itu Rp550 juta,” kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (19/9).

Tak hanya itu, PPATK juga memblokir sejumlah rekening milik tersangka kasus korupsi Lukas Enembe. Total duit di sejumlah rekening yang diblokir itu senilai Rp71 miliar.

“Transaksi yang dilakukan di Rp71 miliar tadi mayoritas itu dilakukan di anak yang bersangkutan, di putra yang bersangkutan,” tandasnya.

Diminta Menyerah

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI, Mahfud MD meminta Lukas Enembe agar menyerahkan diri. Dia berjanji apabila tak terbukti maka Lukas akan dibebaskan dan kasus dihentikan.

“Tapi kalau cukup bukti harus bertanggung jawab, karena kita sudah sepakat untuk membangun Papua yang bersih dan damai sebagai bagian dari pembangunan NKRI,” ujarnya di kantor Kemenpolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (19/8).

Mahfud mengaku mendapat pertanyaan dari tokoh Papua soal kasus dugaan korupsi Lukas Enembe yang dinilai didiamkan. Padahal, dirinya telah mengumumkan adanya 10 kasus korupsi besar di Papua, termasuk Lukas Enembe didalamnya.

Kasus ini masih terus diselidiki. Bahkan KPK kata dia sudah menangani kasus ini sejak 2017. “Oleh sebab itu kepada saudara Lukas Enembe ya kalau dipanggil KPK datang saja, jika tidak cukup bukti kami jamin dilepas dihentikan itu,” tegasnya. ***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga