Polri: Masih Ada Masyarakat, Anggap Teror Hasil Rekayasa

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono.

JAKARTA  – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyebutkan, tantangan besar yang dihadapi Polri dalam menanggulangi terorisme di Indonesia, yakni masih adanya masyarakat yang tidak percaya adanya gerakan radikal atau terorisme.

“Pertama adalah gerakan radikal yang ada sebagaian masih tidak percaya, atau sebagian sengaja tidak percaya. Ini masih terjadi di masyarakat,” kata Rusdi dalam sebuah diskusi virtual, Minggu (4/3).

Bahkan, menurut Rusdi, ada yang berpendapat bahwa pengeboman di Gereja Katedral Makassar dan penembakan di Mabes Polri merupakan hasil rekayasa. Anggapan-anggapan seperti ini  menyebabkan kebingungan di masyarakat.

 “Itu rekayasa kata mereka,” ujar Rusdi.

“Masih ada kelompok kelompok seperti itu yang tidak percaya dan sengaja memang membuat masyarakat jadi bingung,”kata Rusdi.

Tantangan penanggulangan terorisme lainnya yakni sasaran kelompok teror di kalangan anak muda. Ia mencontohkan, pelaku kasus terorisme di Makassar dan Mabes Polri merupakan anak muda yang lahir di era 90-an.

“Ini jelas sekali ini perlu kita antisipasi ke kelompok kelompok teror sekarang telah menyasar daripada anak-anak muda di negeri ini,” ujarnya.

Untuk menghadapi tantangan ini, kata Rusdi, penting bagi kelompok-kelompok moderat untuk bersatu. Jika tidak, maka kelompok kecil akan semakin sering membuat narasi-narasi yang menyesatkan opini publik.

“Permasalahan terorisme tidak masalah yang enteng tetapi masalah yang kompleks sehingga penyelesaiannya adalah bisa dilalui bagaimana potensi-potensi sumber daya anak bangsa ini bergerak bersama untuk sama-sama menghadapi daripada pemahamanan maupun aksi teror yang terjadi di Tanah Air,” katanya.

Sebelumnya, penembakan yang diduga terkait aksi teror terjadi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) sore. Aksi itu dilakukan seorang perempuan berusia 25 tahun, yaitu ZA. Dia sempat melepaskan enam tembakan dari airgun yang digenggamnya. ZA kemudian ditembak mati polisi. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah Polri melakukan sejumlah penggerebekan terhadap terduga teroris, usai terjadi aksi teror bom bunuh diri di Makassar pada Minggu (28/3).***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp