International Media

Rabu, 5 Oktober 2022

Rabu, 5 Oktober 2022

Polda Metro Selidiki Dugaan Pengancaman Guntur Romli oleh Dosen UGM Karna Wijaya

Politikus Partai Solidaritas Guntur Romli bersama kuasa hukumnya Aulia Fahmi di Mapolda Metro Jaya, Senin 18 April 2022.

JAKARTA – Polda Metro Jaya mulai melakukan penyelidikan atas  dugaan pengancaman lewat media sosial yang dilakukan  dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), Karna Wijaya, terhadap politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengatakan, laporan tersebut sudah diterima dan saat ini tengah diselidiki lebih lanjut oleh penyidik.

“Sudah. Sedang dipelajari dulu,” ujar Zulpan melalui pesan singkat, Selasa (19/4).

Zulpan belum menjelaskan secara terperinci perihal laporan tersebut maupun pemeriksaan pihak pelapor. Dia hanya mengatakan bahwa setiap laporan akan ditindaklanjuti oleh kepolisian.

“Prinsipnya setiap laporan polisi akan ditindak lanjuti,” kata Zulpan.

Diberitakan sebelumnya, Guntur Romli melaporkan Karna Wijaya ke Polda Metro Jaya terkait dugaan pengancaman. Menurut Romli, dia membuat laporan tersebut karena merasa terancam dengan unggahan Karna di media sosial yang memuat foto Romli dan istrinya.

Dalam unggahan tersebut, foto Romli dan istrinya disejajarkan dengan foto pegiat media sosial Deni Siregar hingga Ade Armando yang diberi tanda silang.

“Saya merasa diancam dan dihasut karena ada postingan dia di Facebook yang memuat foto saya dan istri saya yang isinya itu satu per satu dicicil massa,” ungkap Romli.

Romli pun menilai bahwa unggahan tersebut merupakan bentuk ancaman dan bisa berujung pada tindakan yang membahayakan dia dan keluarganya.

“Jadi artinya kalau saya pahami ini kan kayak target mau dihakimi seperti Ade Armando selanjutnya. Itu juga diperkuat komentar yang dilakukan oleh Karna Wijaya dengan kata-kata disembelih dan dibedil. Itu saya lihat ancaman yang serius,” katanya.

Atas dasar itu, Romli pun melaporkan Karna Wijaya atas dugaan pengancaman dan hasutan dengan Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP, Pasal 28 dan 29 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Untuk diketahui, Ade Armando yang juga merupakan dosen Universitas Indonesia menjadi korban pengeroyokan sejumlah massa saat demonstrasi bergulir di depan gedung DPR/MPR pada 11 April lalu.***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga