Pertamina NRE Tancap Gas Kawal Transisi Energi

Chief Executive Officer PNRE Dannif Danusaputro.

JAKARTA –  Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) atau Pertamina NRE telah resmi terbentuk secara hukum pada awal Agustus 2021 lalu. Pembentukan subholding dinilai akan mengawal langkah transisi energi Indonesia dalam mewujudkan energi bersih melalui pengembangan energi terbarukan.

“Pembentukan holding dan subholding di tubuh Pertamina bertujuan agar Pertamina lebih adaptif terhadap lingkungan bisnis yang semakin dinamis. Aspirasi Kementerian BUMN RI selaku pemegang saham salah satunya adalah Pertamina menjadi pemimpin transisi energi di Indonesia untuk menekan laju perubahan iklim, melalui dekarbonisasi,” kata Chief Executive Officer PNRE Dannif Danusaputro dalam keterangan tertulis, Senin (13/9).

Melalui restrukturisasi, setidaknya ada empat manfaat langsung yang dirasakan oleh subholding PNRE. Pertama, meningkatnya peluang untuk menjalin kemitraan dalam rangka untuk mempercepat pengembangan kapabilitas BUMN di bisnis energi baru dan terbarukan.

 Kedua, memperoleh fleksibilitas dalam mencari alternatif pendanaan yang kompetitif seperti Green Financing, Green Bond, termasuk melakukan unlock value perusahaan melalui skema initial public offering (IPO).

Ketiga, percepatan pengembangan portofolio bisnis energi baru dan terbarukan Pertamina dengan penjajakan kepada bisnis hydrogen, ekosistem kendaraan listrik, dan bisnis lainnya.

Keempat, adanya potensi sinergi pemanfaatan talent yang telah berpengalaman dalam pengembangan proyek dan program pemeliharaan pembangkit listrik geothermal pada pembangkit listrik lainnya di subholding PNRE.

Di sisi lain, untuk mencapai target 17% energi bersih dalam portofolio bisnis Pertamina, subholding PNRE memiliki aspirasi untuk mencapai kapasitas 10 GW energi bersih pada tahun 2026, yang terdiri dari 6 GW gas to power, 3 GW energi terbarukan di mana termasuk panas bumi di dalamnya, serta 1 GW energi baru.

 Dannif menambahkan bahwa subholding PNRE berkomitmen penuh mendukung target Pertamina menurunkan emisi karbon sebesar 30 persen pada tahun 2030 dengan mengedepankan aspek environment, social, and governance (ESG) dalam praktik bisnisnya.

“Dengan transformasi ini, subholding PNRE menjadi lebih fokus dengan amanah mengawal transisi energi, mewujudkan visi sebagai Indonesia Green Energy Champion, mencapai aspirasi kapasitas terpasang sebesar 10 GW pada tahun 2026, serta mendukung visi Pertamina menuju global green energy company,” tutup Dannif.***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp