Saturday, 15 June 2024

Search

Saturday, 15 June 2024

Search

Peringatan 100 Tahun KWI, Ketum MATAKIN Jadi Salah Satu Narasumber Seminar Lintas Agama dan Kepercayaan

Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo

JAKARTA—-Bertempat di Gedung KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), Jalan Cut Meutia 10, Jakata Pusat, Rabu (15/5) lalu digelar seminar dalam rangka memperingati 100 tahun KWI. 

Rangkaian kegiatan sudah dilakukan sejak November 2023 dan akan berlangsung sampai pada puncak perayaan dibulan November 2024.

Foto bersama narasumber seminar.

        Salah satu kegiatan dalam rangkaian acara tersebut adalah seminar lintas Agama dengan tema “Berjalan bersama dalam keberagaman” yang dihadiri oleh Narasumber dari tokoh agama dan kepercayaan di Indonesia.

        Mengawali acara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa pembuka dan sambutan sekaligus pembukaan acara seminar oleh Ketua KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin,OSC.

Dalam sambutannya, Mgr Antonius menyampaikan keinginan untuk terus menjalin relasi dengan seluruh lapisan masyarakat dan kelompok Agama di Indonesia “Bersama semua Tokoh Lintas Agama dan Budaya, KWI ingin terus menjalin relasi ditengah berbagai kecemasan.

Terima kasih untuk persahabatan yang telah terjalin baik dengan NU, Muhammadiyah, PGI, PHDI, MATAKIN, Permabudhi dan MLKI.

Ketua KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin,OSC.

“Kami menyadari tanpa dukungan dan kerjasama dari Lintas Agama dan Budaya tak mungkin KWI dapat membangun Negeri dengan baik dan benar. Semoga perjumpaan kita dapat menjadi dukungan moral bagi Indonesia yang lebih baik” ujar Mgr Antonius.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber seminar, yang pertama yaitu Ketua PP Muhammadiyah (Prof. Dr. Syafiq A. Mugni, M.A.).

Disampaikan oleh Prof. Dr. Syafiq bahwa perbedaan tidak bisa terhindarkan, untuk itu perlu menjadikan perbedaan tersebut sebagai kekuatan.

“Kita menyadari dan memahami bersama bahwa perbedaan itu harus dirubah menjadi sebuah kekuatan, jangan sampai perbedaan itu kemudian menjadi faktor yang bisa menghancurleburkan Bangsa kita dan karena itu maka tugas kita untuk memanage perbedaan itu sehingga bisa menjadi sebuah kekuatan,” ujar Prof. Dr Syafiq.

Kemudian Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (Pdt. Gomar. Gultom) lebih lanjut memberikan pemaparan dan apresiasi atas berdirinya KWI yang telah menginjak tahun ke 100.

Ketum MATAKIN menerima plakat narasumber seminar.

“Kristen dan Katolik bersumber dari akar yang sama, kita dapat berjalan bersama dan selama ini itulah yang sudah terjadi. Perbedaan tentu ada karena memang teks dan tradisi yang kita miliki kita baca berbeda, setiap orang memiliki tafsir yang berbeda maka dari perbedaan itu memunculkan kesadaran baru,” terang Pdt Gomar dalam penyampaiannya.

Selanjutnya Wasekjen NU Prof Sridatun Naim menyebutkan bahwa sentra utama NU adalah Gus Dur.

 “Kalau Gus Dur kan nyebutnya NU itu satpamnya Indonesia, semua orang harus bangga jadi satpamnya Indonesia. Kalau beliau saat ini masih hidup saya yakin pasti beliau nyebutnya bahwa semua ormas keagamaan di Indonesia lah yang menjadi satpam nya Indonesia,” Prof Sridatun.

Prof Sridatun juga menekankan pentingnya Agama sebagai solusi dari semua permasalahan di Indonesia.

“Kadang – kadang Agama ini bukannya menjadi sumber dari solusi malah jadi sumber dari masalah, saling merasa paling baik dan sebagainya. Tapi kita hendaknya menjadikan Agama itu sebagai sumber solusi atau penyelesaian dan bukan malah sebaliknya,” tambahnya.

Disisi lain Ketua Umum Permabudhi Prof. Dr. Philip K Wijaya berujar bahwa antar Agama itu harus terjalin komunikasi agar tercipta kesepahaman dan saling memahami setelah itu tercapai maka akan timbul yang namanya toleransi. Jika sudah mencapai tahap itu, sudah minim sekali konflik yang akan terjadi.

Ketua Umum PHDI Mayjend (Purn) Wisnu Bawa Tenaya kemudian melanjutkan pemaparan dan mengulas kembali perihal sejarah berdirinya Indonesia dari tahun ke tahun, dan mengajak masyarakat Indonesia untuk berjalan bersama dalam keberagaman.

 “Kita tahu bahwa bangsa ini sangat beragam, kalau kita tidak manage dengan benar maka kemudian akan konflik, tapi jika dapat dimanage dengan benar maka akan tercapai cita cita menuju Indonesia emas, maka mari bersama sama kita sadar dan berjalan dalam keberagaman” pungkas Mayjend (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi Santoso Tanuwibowo juga turut mengucapkan selamat untuk perjalanan KWI yang telah memasuki tahun ke 100. Selanjutnya Xs. Budi menyampaikan peran dari Romo Ismartono yang ikut membantu pemulihan hak sipil Agama Khonghucu. Sebagai penghargaan ada 2 orang Katolik yang menjadi anggota kehormatan MATAKIN yaitu Romo Is dan Rudi Praktikno. Tutur Xs. Budi.

Kemudian Xs. Budi memaparkan tentang kesamaan antara Agama Khonghucu dan Agama Katolik yang sama sama menghormati sosok Ibunda Agung.

Para peserta seminar.

“Ada persamaan antara Khonghucu dan Katolik, kalau Katolik menghormati sosok Bundan Maria, sedangkan di Khonghucu itu juga ada Ibu Nabi Kongzi dan Ibu Mengzi yang begitu dihormati,” jelas Xs. Budi.

Menjelaskan perjalanan hidupnya, Xs. Budi juga menceritakan pengalaman masa kecilnya yang cukup menarik karena semasa kecil beliau banyak bersinggungan dengan ajaran – ajaran Agama lain selain Khonghucu.

“Saya itu terlahir di sebuah rumah yang letaknya di sebelah Gereja Pantekosta, sehinga ijazah SD saya beragama Kristen, tapi SD saya hanya mengajarkan ajaran Islam yang juga saya ikuti selama 6 tahun. Kakak angkat saya adalah aktivis Katolik di Tegal, sering mengajak saya ke Katedral. Karena aktivitas Kelenteng pada saat itu luar biasa banyak saya juga sering main ke Kelenteng Tek Hay Kiong Tegal. Sewaktu SMP Negeri V Tegal dan SMA Negeri I Tegal saya mendapatkan ajaran Agama Khonghucu di sekolah. KTP saya pertama juga Khonghucu, tapi kemudian Khonghucu tidak boleh lagi dicantumkan sebagai Agama di KTP, terpaksa saya pun berpindah status KTP ke Agama Buddha, sampai perguruan tinggi di IPB. Pada waktu penelitian tugas akhir saya 6 bulan di Bali dan saat itu saya juga belajar ajaran Agama Hindu. Dari persinggungan itu saya mengyakini bahwa hakikatnya sebuah Agama itu baik,” terang Xs. Budi.

Sebagai refleksi perjalanan sejarah Indonesia, Xs. Budi juga menyampaikan bahwa kita patut bersyukur atas kehadiran Republik Indonesia.

“Kita merasa bersyukur atas kehadiran Republik Indonesia, logikanya tentu kita harus benar-benar serius menjaga inti kekuatan kita, yaitu Persatuan!. Setiap kali kita menulis dan atau berkata-kata, kita selalu mengatakan bahwa kita adalah bangsa yang bineka, majemuk. Itu benar. Bahkan bukan saja beragam suku, etnis, adat, budaya, bahasa, dan asal kesultanan, tetapi juga beragam agama dan keyakinan. Maka upaya merawat dan menjaga persatuan logisnya harus benar-benar paling kita utamakan. Nomorsatukan,” tutur Xs. Budi.

Selain itu, Xs. Budi juga memaparkan bagaimana peran KWI, MATAKIN, dan Ormas keagamaan lainnya “Bersama-sama majelis agama-agama yang lain, baik KWI maupun MATAKIN keduanya mempunyai kepedulian dan semangat yang sama. Ke dalam tekun serius membina Umat masing-masing agar menjadi Umat Katolik dan Umat Khonghucu yang 100% taat hidup selaras harmonis dalam Firman dan Jalan Kebenaran, dan disaat yang bersamaan juga utuh teguh menjadi WNI yang Pancasilais – mencintai bangsa dan negaranya 100% tanpa ada kecualinya.

Apakah komitmen ketaatan 100% ganda itu mungkin diwujudkan? Jawabnya bukan saja mungkin – yang artinya bisa saja tidak terwujud atau menyimpang, tetapi faktanya sudah terbukti dijalankan sungguh-sungguh selama ini. Umat Khonghucu 100% menerima Pancasila dan UUD NRI 1945 karena para seniornya duduk dalam BPUPK (I). Jadi Pancasila diyakini 100% selaras senafas dengan ajaran Khonghucu yang meninggikan Cintakasih-Perikemanusiaan, Kebenaran-Keadilan-Kewajiban, Kesusilaan-Kepatutan-Etika-Etiket- Kebersamaan, Kearifbijaksanaan dan meyakini Tuhan Yang Maha Awal dan Maha Akhir Kehidupan.

“Saya yakin umat Katolik dengan KWI nya juga mempunyai sikap, keyakinan dan pandangan yang sama. Pernyataan Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J., tentang “100% Katolik – 100% Indonesia” juga mencerminkan dan mewakili sikap Umat Katolik Indonesia,” ucap Xs Budi.

Keyakinan di atas bukanlah tanpa alasan. Beberapa poin di bawah ini saya yakini menjadi dasar kuat pendapat dan keyakinan saya, karena kebetulan KWI dan MATAKIN punya banyak kesamaan, antara lain : (1) Lahir di masa yang sama, dimasa penjajahan Belanda dan kemudian Jepang, sehingga merasakan suasana kebatinan yang sama, (2) berusia hampir sama tuanya (MATAKIN lahir 12 April 1923, sedangkan KWI lahir 15 Mei 1924) sehingga kedua organisasi ini sudah teruji melewati bermacam era pemerintahan, (3) Baik KWI maupun MATAKIN – dan juga PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) merupakan wadah tunggal yang menaungi umat masing-masing,  (4) KWI dan MATAKIN juga sekaligus merupakan organisasi keagamaan yang menaungi para Rohaniwan dan Umat sekaligus, dan (5) Ada kemiripan Struktur Organisasi MATAKIN dan KWI di daerah, yang tidak mutlak didasari wilayah administratif negara tetapi berdasarkan distribusi penyebaran Umat.” Pungkas Xs. Budi

Kemudian Xs. Budi menukaskan kembali perihal harapan kerjasama yang baik antara KWI dan MATAKIN “Sebagai organisasi keagamaan yang tunggal, dalam arti menaungi seluruh umat Katolik di Indonesia, KWI mempunyai struktur dan mekanisme organisasi yang solid dan rapi. Apalagi dalam skala internasional juga merupakan satu kesatuan. Administrasi dsn data umatnya juga tercatat rapi, patut dijadikan contoh bagi yang  lain. Saya menaruh hormat dan apresiasi yang tinggi. Semoga kerja sama antara KWI dan MATAKIN akan terjalin semakin akrab, kuat, dalam semangat persaudaraan sebangsa, setanah air dan kemanusiaan,” ujar Xs. Budi

Terakhir dalam seminar tersebut, Sekjend MLKI Ibu Retno Lastani juga menyampaikan ucapan selamat atas 100 tahunnya KWI. Senada dengan narasumber lainnya Ibu Retno juga menyampaikan harapan yang sama “tentu harapannya Indonesia menjadi Negara yang damai sehingga bisa menjadi Bangsa yang maju dan mencapai Indonesia emas,” ujar Retno. ***

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media