Pencarian KRI Nanggala 402 Berkejaran dengan Waktu

Kapuspen TNI Mayjen Achmad Riad.

JAKARTA – TNI masih terus berupaya mencarikapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang kontak di perairan utara Bali, Rabu (21/3). Sebanyak 400 personel dikerahkan untuk mencari kapal selam tersebut.

Selain itu, sedikitnya enam alutsista dioperasikan dalam upaya pencarian kapal tersebut. Alutsista tersebut terdiri dari lima KRI dan satu helikopter.

“Sebagai informasi, lima KRI dan satu helikopter yang melaksanakan operasi pencarian dengan kekuatan yang dikerahkan lebih kurang 400 orang,” ucap Kapuspen TNI Mayjen Achmad Riad saat konferensi persnya, Kamis (22/4).

Lantaran proses pencarian masih dilakukan, TNI berharap tidak ada analisis yang tidak mendasar dilakukan segelintir pihak. Hal itu, sambungnya, bertujuan agar memberikan ketenangan kepada masyarakat.

“Saya tegaskan kembali berbagai berita yang disampaikan sudah ditemukan 21 jam itu sebenarnya belum bisa dijadikan sebagi dasar. Oleh karena itu saya berharap tidak membuat analisa dan memberitakan yang mungkin belum dipastikan kebenarannya,” katanya.

Baterai Terbatas

Sementara menurut Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama Julius Widjojono, upaya pencarian KRI Nanggala berkejaran dengan waktu lantaran operasional kapal selam di bawah laut tergantung pada baterai.

“Untuk update sampai hari ini, beberapa KRI terlibat dalam pencarian seperti KRI Re Martadinata, KRI Ngurah Rai, dan KRI Diponegoro. nanti siang Panglima TNI akan on board di KRI Dokter Soeharso untuk memantau jalannya proses pencarian,” kata Julius saat diwawancara salah satu siaran radio,Kamis, (22/4).

Ia mengaku, dalam pencarian KRI Nanggala ini, pihaknya mengacu pada tumpahan minyak guna mengetahui lokasi kemungkinan kapal tersebut tenggelam.

https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNC8yMi8xLzEzMjI5OS8wLw== “Kita mengacu pada tumpahan minyak yang terdeteksi saat pengamatan udara di lautan, tempat KRI Nanggala terakhir terlihat,” tutur Julius.

Ia mengakui, pencarian KRI Nanggala berkejaran dengan waktu lantaran operasional kapal selam di bawah laut tergantung pada baterai. Itu karena kapasitas baterai di KRI Nanggala 402 relatif terbatas.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi beranggapan, usia KRI Nanggala 402 yang telah mencapai 40 tahun dapat mempengaruhi kinerja kapal.

“Seperti yang telah dikatakan TNI Angkatan Laut, kapal ini telah berusia 40 tahun. Jadi menurut saya usia yang sudah cukup tua ini bisa mempengaruhi kinerja kapal,” ujar Rusdi. Apalagi perawatan kapal tua, justru semakin mahal setiap tahunnya.  “Mungkin karena semakin mahal, perawatan kapal yang semakin tua, maka akhirnya agak berkurang perawatan KRI Nanggala ini. Karena seperti yang kita ketahui kita memiliki keterbatasan anggaran,” tutur Rusdi.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp