Pencapaian yang Fantastis, Italia!

Skuad Timnas Italia mengangkat trofi Piala Eropa 2020. (Foto: ist)

LONDON -Italia menjadi raja baru sepak bola benua Eropa  usai memenangkan trofi Piala Eropa 2020. Pada laga final yang berlangsung di Stadion Wembley, Senin (12/7) dinihari WIB, Italia mengalahkan Inggris lewat adu penalti.

            Inggris mengawali laga dengan sempurna dan unggul cepat di menit kedua lewat Luke Shaw. Namun di babak kedua,  Leonardo Bonucci menyamakan kedudukan. Skor ini bertahan hingga  extra time.

Di babak adu penalti,  tiga eksekutor Italia  yakni Domenico Berardi, Bonucci dan Federico Bernardeschi sukses menjebloskan bola. Sementara tendangan  Andrea Belotti dan Jorginho ditepis Jordan Pickford. 

Harry Kane mendapat pengawalan pemain Italia.

Dari kubu Inggris cuma Harry Kane dan Harry Maguire yang menjalankan tugas dengan baik. Tendangan Marcus Rashford mengenai tiang gawang, sedangkan tendangan   Jadon Sancho dan Bukayo Saka digagalkan Gianluigi Donnarumma.

Kemenangan ini membuat Gli Azzurri  meraih gelar kedua mereka di Piala Eropa, setelah yang pertama terjadi pada 1968. Mereka menyamai catatan Prancis yang juga sudah dua kali juara, yakni pada 1984 dan 2000.

Kiper Gianluigi Donnarumma menepis tendangan penalti Bukayo Saka.

Pelatih Roberto Mancini menitikkan air mata usai timnya sukses di ajang ini. Kerja kerasnya mengangkat Italia yang terpuruk usai gagal ke Piala Dunia 2018 membuahkan hasil. Ia sanggup membawa Italia tampil begitu fantastis, tak terkalahkan dalam 34 laga terakhir.

“Itu adalah emosi yang muncul setelah meraih sesuatu yang luar biasa, melihat pemain merayakannya, fans merayakan di bangku penonton.  Melihat segalanya yang sudah berhasil kami ciptakan, semua kerja keras yang kami kerahkan selama tiga tahun terakhir dan khususnya dalam 50 hari terakhir, yang terasa sangat sulit,” ujar Mancini  seperti dilansir ESPN.

Ia menyebut laga final berlangsung ketat dan luar biasa. “Ini bukan pertandingan yang mudah dan sangat sulit untuk berkembang. Inggris memberikan tekanan tetapi kemudian kami mendominasinya.  Dalam penalti, Anda harus memiliki sedikit keberuntungkan dan saya juga simpati untuk Inggris,” ujarnya.

Senyum kebangaan Roberto Mancini mengangkat trofi

Mancini dan mantan rekan setimnya di Sampdoria, koordinator tim, Gianluca Vialli, berpelukan setelah Italia memastikan kemenangan di Wembley, di mana mereka sebelumnya gagal di level klub bersama Blucerchiati.

“Persahabatan kami adalah persahabatan yang melampaui segalanya, karena Sampdoria itu melebihi segalanya. Hari ini sebuah lingkaran telah ditutup, tetapi saya harus mengatakan bahwa para pemain kami luar biasa,” kata Mancini.

Donnarumma mengakui kalau gol cepat Luke Shaw bisa saja membuat timnya terpuruk. Namun,  Italia menolak untuk menyerah. “Gol di awal pertandingan itu bisa saja membunuh kami, tapi kami tidak pernah menyerah. Anda bisa kebobolan, itu tidak mudah, karena Inggris bertahan dengan baik, tapi kami spektakuler dan kami pantas mendapat semua ini,” kata Donnarumma dilansir Football Italia.

Kapten Giorgio Chiellini mengungkap kunci kebangkitan Italia adalah  hasrat besar untuk mendominasi laga. “Kuncinya adalah selalu menikmati sepakbola dan menjadi diri sendiri. Kami ingin mengontrol permainan, menguasai bola. Kami menang, saya pikir ini pantas.” ujar Chiellini kepada RAI Sport.

Kesedihan di pihak Inggris.

Emosi Leonardo Bonucci meledak setelah Italia memastikan diri juara  Dia pun teriak lantang “it’s coming to Rome” di depan kamera televisi. “Saat ini tidak ada momen yang lebih indah dalam karier saya daripada ini. Mungkin akan ada dalam satu setengah tahun ke depan, tapi sekarang ini adalah malam terbaik dari semuanya,” kata Bonucci seperti dikutip dari Sky.

Kekalahan  ini terasa luar biasa sakit untuk Inggris. “Malam ini akan sangat sulit buat kami semua tentu saja. Anda harus merasakan kekecewaan karena kesempatan untuk meraih trofi seperti ini melayang,” ujar manajer Inggris Gareth Southgate seperti dilansir BBC.

Ia juga menegaskan bertanggung jawab sepenuhnya terkait kegagalan Inggris di adu penalti. Ini karena dirinya yang punya kuasa penuh menentukan penendang. Ia tak ingin pemain yang gagal mendapat banyak tekanan.

“Ini semua murni di tangan saya. Saya memutuskan penendang penalti berdasarkan apa yang telah mereka lakukan dalam latihan, dan tidak ada yang berdiri sendiri. Kami menang bersama sebagai sebuah tim, dan itu tanggung jawab kami semua karena tidak bisa memenangkan pertandingan malam ini,”  tandasnya.

Dengan demikian, Inggris masih juga belum mampu   mengangkat trofi Henry Delauney,  sejak ajang ini dimulai  tahun 1960.***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp