International Media

Kamis, 26 Mei 2022

Kamis, 26 Mei 2022

Penasihat Negara sekaligus Menlu Tiongkok Wang Yi Adakan Pertemuan dengan Menlu RI Retno Marsudi

Penasihat Negara sekaligus Menlu Tiongkok Wang Yi dan Menlu RI Retno Marsudi.

ANHUI–Penasihat Negara sekaligus Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, Kamis (31/3) lalu mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi di Tunxi, Anhui, Tiongkok.

Wang Yi mengatakan Tiongkok dan Indonesia adalah negara berkembang besar yang penting dan perwakilan dari ekonomi berkembang.

Kedua belah pihak memiliki kepentingan bersama yang luas dan terus memperdalam kerja sama yang saling menguntungkan.

Presiden Xi Jinping dan Presiden Joko Widodo menjalin komunikasi intens, menunjukkan hubungan bilateral yang strategis dan tingkat tinggi.

Dalam menghadapi epidemi abad ini dan perubahan satu abad, kedua negara telah bergandengan tangan untuk menghadapi tantangan dan membangun pola baru ” four-wheel drive” kerjasama politik, ekonomi, budaya dan maritim.

Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Indonesia dengan arah umum membangun komunitas masa depan bersama, bersama-sama memimpin tren kerja sama regional, memajukan tata kelola global sekaligus menetapkan model bagi negara-negara berkembang untuk bersatu dan bekerja sama serta berkembang bersama.

Suasana pertemuan Wang Yi dan Retno Marsudi.

Wang Yi mengatakan kedua belah pihak harus memperkuat desain tingkat atas, membentuk lebih banyak consensus serta mengumpulkan lebih banyak hasil. Memastikan penyelesaian Kereta Cepat Jakarta-Bandung berkualitas tinggi sesuai jadwal, mendukung perusahaan kedua negara untuk melakukan kerja sama dalam produksi serta penelitian dan pengembangan vaksin dan API.

Selain itu juga membantu Indonesia membangun pusat produksi vaksin regional. Kami menyambut lebih banyak produk berkualitas tinggi dari Indonesia untuk diekspor ke Tiongkok sekaligus merealisasikan perkembangan perdagangan bilateral yang seimbang dan sehat.

Retno Marsudi mengucapkan selamat kepada Tiongkok yang berhasil menyelenggarakan serangkaian konferensi tentang Afghanistan, dengan mengatakan bahwa konferensi tersebut akan menyatukan tetangga Afghanistan dan membantu mempercepat rekonstruksi damai dan peningkatan mata pencaharian masyarakat di Afghanistan.

Hubungan Indonesia dan Tiongkok berkembang dengan baik dan kerja sama di berbagai bidang terus mengalami kemajuan penting. Tiongkok telah menjadi mitra ekonomi dan perdagangan terbesar Indonesia.

Volume perdagangan kedua negara meningkat 54% tahun lalu, menciptakan 250.000 lapangan kerja bagi Indonesia. Indonesia menyambut baik pihak Tiongkok untuk meningkatkan investasi dan berpartisipasi dalam pembangunan ibu kota baru Indonesia.

Menyatakan terima kasih kepada Tiongkok yang telah membantu Indonesia membangun pusat produksi vaksin regional, dan bersedia memperkuat kerja sama bilateral dalam perawatan medis dan konektivitas.

Kedua belah pihak bertukar pandangan tentang memperdalam kemitraan strategis komprehensif Tiongkok-ASEAN, dan sepakat untuk merumuskan rencana aksi sesegera mungkin, memperkuat keselarasan antara bidang kerja sama utama “Belt and Road” dan “ASEAN Indo-Pacific Outlook”.

Retno lebih lanjut menyatakan “ASEAN Indo-Pacific Outlook” sejak awal telah berfokus pada ekonomi dan pembangunan, berkomitmen pada kerja sama regional yang saling menguntungkan dan menjaga kepentingan bersama negara-negara kawasan regional.

Wang Yi menekankan Tiongkok mendukung sentralitas ASEAN dan mendukung struktur kerja sama regional berbasis ASEAN.

Visi dan misi dan target  ASEAN Indo-Pacific Outlook sangat berbeda dengan Strategi Indo-Pasifik AS yang bertujuan untuk memprovokasi konfrontasi antar kubu dan memicu ketegangan wilayah regional.

Semua pihak harus waspada dan mencegah bangkitnya kembali mentalitas Perang Dingin di kawasan regional.

Kedua belah pihak sepakat untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama di G20. Wang Yi menyampaikan pihak Tiongkok sangat mendukung Indonesia sukses menjadi tuan rumah KTT G20 Bali, menekankan bahwa G20 harus fokus pada koordinasi kebijakan makroekonomi dan tidak boleh dipolitisasi.

Semua anggota memiliki status yang sama dan tidak ada yang berhak memecah belah G20.

Kedua belah pihak juga bertukar pandangan tentang situasi di Ukraina dan masalah lainnya. idn/din

Sukris Priatmo

Komentar