Pelabuhan Patimban Sanggup Tampung Kapasitas 7,5 Juta TEUs

          JAKARTA (IM) – Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengatakan, Pelabuhan Internasional Patimban mencakup berbagai kegiatan dan potensi ekspor-impor yang bisa dimaksimalkan. Serta kegiatan perdagangan antarpulau untuk menghadapi era Indonesia emas di tahun 2045 mendatang.

          “Jadi untuk desain pelabuhan dengan dermaga yang dibangun di lepas pantai terhubung dengan jembatan dari daratan, terminal peti kemas kita rencanakan dengan kapasitas 7,5 juta (twenty foot equivalent unit/TEUs,” ujar Budi dalam telekonferensi, Kamis (7/1).

          Ia menjelaskan, Pelabuhan Patimban juga bisa digunakan untuk fungsi lain, yakni untuk terminal otomotif dengan kapasitas 600 ribu CBU (Completely Built Up) per tahun.

          “Itu adalah suatu jumlah yang besar dan tentu nanti membuat Indonesia menjadi satu negara eksportir yang diperhitungkan di dunia,” ungkap dia.

          Budi menambahkan kedalaman draf Pelabuhan Patimban yang direncanakan sedalam 16 meter, diharapkan mampu menampung kapalkapal besar agar bisa merapat.

          Pasalnya menurut jurnal Review of Maritime Transport 2017 dikatakan dalam mewujudkan suatu pelabuhan agar menjadi pusat konektivitas, maka pelabuhan itu harus terhubung dengan baik pada kegiatan industri dan perdagangan internasional,” jelasnya

          Selain itu, kata dia, harus memperhatikan beberapa aspek yaitu kecepatan, akses, peralatan modern, dengan layanan yang berbasis teknologi dan digitalisasi.

          Di mana, pelabuhan merupakan simbol utama dalam rantai transportasi global, yang menyediakan akses ke pasar, mendukung rantai pasokan, menghubungkan konsumen dan produsen.

          “Bahkan membawa manfaat bagi masyarakat lokal. Apalagi, Pelabuhan Patimban ini juga dirancang melalui konsep sustainable, green, smart dan integrated International port,” tuturnya.

          Lebih jauh Budi mengatakan dwelling time atau waktu tunggu pengurusan peti kemas di Pelabuhan Patimban bisa dilakukan selama kurang dari 2 hari.

          Pasalnya, pelabuhan ini sudah kerja sama dengan pihak swasta dalam skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

          “Jadi Patimban yang akan kerja sama dengan swasta, dengan skema KPBU diharapkan bisa memberikan layanan prima. Contohnya kita targetkan bisa me-manage dwelling time kurang dari 2 (hari),” ujar Budi

          Dia menandaskan, dengan pengurangan biaya karena cepatnya pengoperasian barang di pelabuhan Patimban ini, akan membuat efisiensi biaya logistik nasional.

           “Adanya pengurangan biaya trucking dan dwelling time ini. Maka efi siensi biaya logistik nasional akan signifikan,” ujarnya. ● do

Mika Urip

Mika Urip

Tulis Komentar

WhatsApp