Peduli Kanker Anak, Lions Club Surabaya dan Malang Gelar Baksos Bersama di Rumah Singgah YPKAI

Lions Club Surabaya dan Malang berfoto bersama penghuni Rumah Singgah YPKAI Surabaya saat baksos gabungan

SURABAYA—Turut mensukseskan program ‘Childhood Cancer Awareness’, 6 Lions Club Surabaya dan 2 Lions Club Malang gelar bakti sosial di Rumah Singgah Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya, Kamis  (11/3). 

        Kegiatan tersebut, diisi dengan pembacaan dongeng cerita rakyat, makan bersama, serta pemberian paket bantuan berupa sembako, susu anak, buku-buku cerita, serta boneka. Yang diberikan secara simbolis oleh masing-masing Presiden Lions Club yang hadir. 

Suasana saat pembacaan dongeng cerita rakyat.

       

Menurut Project Officer Evy Indrijani Noor, baksos gabungan di Rumah Singgah YPKAI ini bertujuan untuk berbagi kasih.

“Agar anak-anak dan keluarga penghuni rumah singgah ini, tetap semangat dan optimis dalam menjalani kehidupan. Pemberian dari kami berupa susu, boneka dan buku bacaan untuk hiburan, serta sembako berupa beras, minyak goreng dan telur. Semoga pemberian ini menjadi berkat,” ujarnya. 

PO Evy Indrijani Noor saat menyerahkan bantuan.

       

Sementara itu, Iis pengurus YPKAI mengucapkan terimakasih kepada Lions Club yang telah datang memberi bantuan.

“Kami bersyukur. Semoga kedepannya, Lions Club bisa datang kembali untuk menjenguk anak-anak penderita kanker di sini, ” harap Iis, yang juga menjadi sopir ambulan YPKAI.

Penyerahan bantuan secara simbolis oleh masing-masing Presiden Lions Club.

        Abi Pratama, pelajar kelas 3 SDN Klakah Rejo I Surabaya, salah satu penghuni Rumah Singgah YPKAI, mengaku senang dengan kedatangan Lions Club yang sudah menghibur diri dan teman-temannya.  Abi merupakan putra pertama pasangan Tohir dan Agutina yang menderita leukimia, dan melakukan pengobatan kemoterapi sejak 2 tahun lalu.

        Agustina sendiri mengaku berat, merasakan sakit yang diderita anaknya. Apalagi cukup banyak obat yang harus diminum Abi, namun tidak tercover BPJS.  “Cukup berat. Biayanya mahal, ada 1 pil seharga Rp 65 ribu yang harus dikonsumsi Abi. Tapi tidak masuk BPJS. Harus beli sendiri,” tutur Agustina, yang tidak bekerja dan sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan suaminya hanya berprofesi sebagai kuli bangunan. anto tse 

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp