Pedagang Bakso Audiensi dengan Menkop dan UKM

Suasana Rapat Kementerian Koperasi dan UKM RI dengan stake holder terkait guna mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi pedagang Bakso akibat tingginya harga daging sapi dan pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Foto Dokumentasi DPRD Kabupaten Bekasi.

CIKARANG PUSAT – Pedagang daging sapi se-Jabodetabek melakukan aksi mogok jualan pada 20 Januari 2021 sampai dengan 22 Januari 2021 yang lalu. Hal itu membuat ribuan pedagang Bakso terancam gulung tikar, akibat sulitnya mencari daging sebagai bahan baku utama jualan mereka. 

Di sisi lain, para pedagang Bakso tidak bisa menaikkan harga jualnya, dikarenakan daya beli masyarakat yang rendah dan turun drastis akibat dari pandemi Covid-19. Penerapan PSBB dan PPKM saja, sudah membuat omzet para pedagang bakso turun hingga 50%. Apalagi ditambah dengan kelangkaan dan mahalnya bahan baku utama (daging) dan bumbu tambahan bahan bakso, tentu sangat membuat para pedagang bakso menjerit.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi, Nyumarno dalam pesan WhatsAap-nya Rabu (10/3) mengatakan, harga bahan baku Bakso terpantau masih tergolong sangat tinggi, di antaranya harga daging Sapi segar Rp 130.000/kg, daging Sapi beku Rp 80.000/kg, harga Ayam Rp 32.000/kg, harga Cabe Rawit Rp 85.000/kg, dan belum lagi tingginya bumbu-bumbu perlengkapan bakso lainnya.

Kenaikan Harga daging pada saat ini, lanjut Nyumarno, mengagetkan semua pihak. Karena biasanya kenaikan harga daging sapi itu terjadi pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan menjelang Hari Natal serta Tahun Baru. Itupun tidak berlangsung lama, biasanya setelah perayaan Hari Besar itu harga segera normal kembali.

“Kalau saat ini harga daging sapi mencapai Rp 130.000/kg, maka dikhawatirkan pada saat Hari Raya Idul Fitri nanti, harga bisa mencapai Rp 150.000/kg. Ini bisa menjadi harga daging Sapi tertinggi di dunia,” imbuhnya.

Politisi PDI Perjuangan ini melanjutkan, dirinya mendampingi PAPMISO (Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso) Audiensi dengan Kementerian Koperasi dan UKM RI dikarenakan banyaknya keluhan para pelaku UKM khususnya pedagang Bakso yang terdampak kenaikan harga daging dan dampak pandemi Covid-19. 

“Dan memang saya yang menyarankan rekan-rekan PAPMISO untuk berkirim surat ke Kementerian Koperasi dan UKM RI juga ke Kementerian Perdagangan untuk menyikapi keluhan-keluhan tersebut,” ungkap Nyumarno.

Rekan-rekan, sebutnya, berkirim surat ke Kemenkop dan UKM RI pada tanggal 20 Januari 2021 yang lalu, setelah hari pertama pedagang daging mogok jualan. Hal tersebut, sambungnya, berdampak kepada rekan-rekan UKM Pedagang Bakso, mereka kesulitan mendapatkan daging sebagai bahan baku utama bakso. 

“Saya sangat mengapresiasi langkah cepat Pak Menteri Koperasi dan UKM RI yang dengan cepat merespon Surat Permohonan Audiensi dari PAPMISO, rekan-rekan PAPMISO bisa diundang oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI pada Selasa, 26 Januari 2021 yang lalu,” ujarnya.

Pada saat audiensi, Nyumarno melanjutkan, Pak Menteri Teten Masduki mendengarkan semua keluh kesah dan jeritan perwakilan pedagang mie dan bakso, baik dari mahalnya harga daging sapi, ayam, cabe hingga tentang permasalahan program BPUM atau program bantuan lain dari Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Menteri, kata dia lagi, berjanji akan membantu mencarikan solusi atas permasalahan sebagian besar pedagang bakso, yang mana mayoritas adalah pelaku UKM. 

“Beliau (Menteri Koperasi dan UKM RI,-red), akan membantu memfasilitasi Koperasi PAPMISO untuk dapat kerjasama dengan para peternak sapi lokal di daerah-daerah, yang bertujuan untuk menyuplai bahan baku untuk para pedagang bakso. Karena daging sapi lokal berkualitas baik dan paling bagus untuk membuat bakso,” imbuhnya.

Menteri, kata dia lagi, mendorong rekan-rekan pedagang bakso untuk mengoptimalkan pemenuhan daging sapi lokal dari pada Indonesia selalu tergantung pada import dari negara lain. Meskipun data secara nasional akan kebutuhan daging, sambungnya, belum sepenuhnya terpenuhi dari peternak lokal.

Dalam audiensi dengan Menteri Koperasi dan UKM RI tersebut, masih menurut Nyumarno, dirinya menyimpulkan 3 (tiga) prinsip yang disampaikan rekan-rekan PAPMISO. 

Pertama, sebut dia, rekan-rekan UKM Pedagang Mie dan Bakso berharap dapat mengakses bantuan BPUM dan atau program lain seperti LPDB atau bantuan permodalan dari Kemenkop dan UKM RI. 

Kemudian yang kedua, rekan-rekan yang sudah memiliki Koperasi Produses sejak tahun 2007 ini berharap dapat difasilitasi oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk bekerjasama dengan peternak-peternak sapi lokal di daerah. 

Dan yang Ketiga, sebutnya menyimpulkan, rekan-rekan meminta difasilitasi untuk dihubungkan dengan BULOG, agar saat membeli daging impor bisa langsung ke BULOG, tidak harus melalui tangan-tangan oknum lagi.

Tiga hal yang disampaikan rekan-rekan Pedagang Bakso kepada Pak Menteri Koperasi dan UKM RI, kata dia lagi, menjadi catatan penting yang akan segera menjadi tindak lanjut Kemenkop dan UKM RI.  “Pak Menteri bahkan langsung meminta Deputi dan Staff Khusus Menteri untuk mencatat dan segera melakukan upaya-upaya tindak lanjut atas permohonan rekan-rekan pedagang Bakso,” tutup Nyumarno.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp