International Media

Minggu, 2 Oktober 2022

Minggu, 2 Oktober 2022

PBB: Lima Juta Warga Ukraina Telah Mengungsi

Pengungsi Ukraina memadati stasiun di Kharkiev. dailymail

JENEWA – Badan pengungsi PBB memperkirakan, lima juta orang Ukraina telah melarikan diri untuk menghindari invasi Rusia. Ini adalah krisis pengungsi terburuk di Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua.
Invasi Rusia telah memicu perpindahan orang secara besar-besaran selama hampir delapan minggu sejak perang dimulai. Data PBB menunjukkan bahwa 5,03 juta telah meninggalkan Ukraina pada Kamis (21/5).
Sebagian besar pengingsi telah menyeberang ke Uni Eropa melalui titik-titik perbatasan di Polandia, Slovakia, Hongaria, dan Rumania. Di negara-negara tersebut para sukarelawan dan pemerintah membantu sebagian besar pengungsi untuk mendapatkan pekerjaan, akomodasi, dan memberikan dukungan.
“Ketika Anda melihat jumlah pengungsi di Eropa tengah, jumlah ini belum pernah terjadi sebelumnya. Penting juga untuk mengingat bahwa, jumlahnya dapat meningkat dengan cepat dari hari ke hari tergantung pada situasi di lapangan,” kata Koordinator Program Migrasi di People in Need, sebuah kelompok bantuan yang berbasis di Praha dan beroperasi di Ukraina, Jakub Andrle.
Lebih dari separuh pengungsi telah memasuki Uni Eropa melalui Polandia. Mereka memiliki keluarga dan koneksi lain yang tinggal di komunitas Ukraina. Di Eropa tengah dan timur, banyak penduduk bergegas ke perbatasan pada awal perang. Mereka membawa perbekalan bagi para pengungsi yang lelah.
Sebagian besar pengungsi menempuh perjalanan panjang dan mengerikan, untuk menuju tempat yang aman. Koordinator Program Migrasi di People in Need, Katarina Pleskot Kollarova, mengatakan, sekarang fokusnya telah bergeser ke tujuan jangka panjang, karena jumlah pengungsi terus meningkat, sementara kapasitas tempat tinggal terbatas. Sebagian besar pengungsi tinggal di perumahan sementara dengan keluarga atau hotel yang membutuhkan ruang untuk musim turis mendatang.
“Tanggapan pertama sangat bagus, tetapi sekarang pemerintah perlu memikirkan perspektif jangka panjang. Semakin sulit untuk menemukan tempat di Praha dan semakin sulit untuk menyatukan keluarga besar,” kata Kollarova.
Sementara itu, pemerintah Ukraina mengatakan siap mengadakan negosiasi “putaran khusus” dengan Rusia di Mariupol.
“Ya. Tanpa syarat apa pun. Kami siap mengadakan ‘putaran khusus negosiasi” tepat di Mariupol,” kata penasihat presiden Ukraina yang juga berperan sebagai negosiator, Mykhailo Podolyak, lewat akun Twitter-nya, Rabu (20/4).
Dia secara terbuka menyampaikan bahwa Ukraina ingin menyelamatkan para prajurit dan warga sipil yang terjebak di sana. Anggota Azov, yakni milisi sayap kanan yang sekarang menjadi bagian dari Garda Nasional Ukraina, juga menjadi target misi penyelamatan. “Setiap orang. Karena mereka milik kami. Karena mereka ada di hati saya,” kata Podolyak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, pasukan negaranya tidak mampu membuka blokade dan pengepungan pasukan Rusia di Mariupol. Ia secara terbuka meminta bantuan dari sekutu Barat.
“Ada dua cara untuk membuka blokir Mariupol. Yang pertama adalah bantuan serius dan senjata berat yang kami serta mereka (pasukan Ukraina di Mariupol) andalkan. Dengan tindakan bersama kita dapat membuka blokir Mariupol,” kata Zelensky dalam konferensi pers bersama Presiden Dewan Eropa Charles Michel di Kiev, Rabu.
Menurut Zelensky, saat ini Ukraina belum memiliki cukup persenjataan semacam itu untuk membebaskan Mariupol dari kepungan pasukan Rusia. “Cara kedua (untuk membuka blokade Mariupol) adalah diplomatik. Rusia belum menyetujuinya,” ucapnya.
Zelensky mengungkapkan, saat ini ratusan tentara Ukraina di Mariupol mengalami luka di bagian tangan mereka. Para prajurit Ukraina kehilangan nyawa dalam melindungi warga sipil yang terjebak di kota tersebut.
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Rusia telah memperbarui seruannya kepada pasukan Ukraina yang tersisa di area pabrik baja Azovstal di kota Mariupol untuk menyerah dan meletakkan senjata mereka. “Kepemimpinan Rusia menjamin kepada semua orang yang meletakkan senjata mereka perlindungan hidup, keamanan penuh, penyediaan perawatan medis yang memenuhi syarat dan kepatuhan terhadap Konvensi Jenewa tentang perlakuan terhadap tawanan perang,” ujar Kepala Pusat Kontrol Pertahanan Nasional Federasi Rusia Kolonel Jenderal Mikhail Mizintsev.****

Frans Gultom

Komentar

Baca juga