International Media

Selasa, 4 Oktober 2022

Selasa, 4 Oktober 2022

Paus Kutuk Kekejaman Perang di Ukraina pada Misa Malam Paskah

Paus Fransiskus

VATIKAN – Paus Fransiskus mengutuk kekejaman perang di Ukraina pada Sabtu (16/4) pada Misa malam Paskah yang dihadirinya, tapi tidak memimpin misa, mungkin karena sakit kaki yang memaksanya untuk membatasi kegiatan.

Misa dihadiri oleh Ivan Fedorov, wali kota Melitopol, yang ditahan oleh pasukan Rusia bulan lalu dan kemudian dibebaskan dalam pertukaran tahanan.

Kardinal Italia Giovanni Battista Re menggantikan Paus memimpin kebaktian itu, yang melibatkan prosesi dalam kegelapan hampir menyeluruh di bagian tengah gereja terbesar Dunia Kekristenan itu.

Paus duduk di depan Basilika Santo Petrus di kursi putih besar di samping, tampak waspada dan berdiri selama pembacaan Injil.

Dia membaca homili sambil duduk tapi dengan suara normal dan kemudian bangkit untuk membaptis tujuh orang yang memeluk Agama Katolik.

Paus berpaling dari teks yang disiapkan untuk menyapa Fedorov, keluarganya dan tiga anggota parlemen Ukraina yang duduk di depan.

Dia berbicara tentang “kegelapan perang, kekejaman”.

“Kami semua berdoa untukmu dan bersamamu. Kami berdoa karena ada begitu banyak penderitaan. Kami hanya bisa menemanimu, doa kami dan berkata kepadamu ‘jangan berkecil hati, kami menemanimu,'” kata Fransiskus.

Dia mengakhiri dengan mengatakan “Kristus telah bangkit” dalam bahasa Ukraina.

Vatikan mengatakan Fransiskus bertemu secara pribadi dengan delegasi Ukraina sebelum Misa.

Paus yang berusia 85 tahun itu menderita linu panggul, yang menyebabkan nyeri pada satu kaki dan mengakibatkan kesulitan berjalan dengan normal.

Baru-baru ini Fransiskus juga mengalami sakit di lutut kanannya. Kondisi itu seolah kambuh dan pulih.

Sebuah program yang dikeluarkan oleh Vatikan pada Jumat (15/4) mencantumkan Paus sebagai kepala selebran (imam misa) pada kebaktian Sabtu malam.

Vatikan tidak memberikan alasan resmi untuk perubahan itu.

Pada Jumat sore, Paus cukup sehat untuk berjalan di sepanjang lorong baik pada awal dan akhir kebaktian Jumat Agung di basilika tapi dia tidak bersujud di lantai seperti biasanya selama kebaktian itu.

Dia harus membatasi beberapa gerakannya selama perjalanan ke Malta pada awal April dan juga harus meminta seorang kardinal untuk menggantikannya dalam Misa pada Desember.

Beberapa kegiatan Pekan Suci, yang berpuncak pada Minggu, menandai pertama kalinya sejak 2019 publik diizinkan untuk hadir setelah dua tahun pembatasan Covid-19. Pada Minggu Paskah, hari terpenting dalam kalender liturgi Kristen, Paus akan mengadakan Misa di Lapangan Santo Petrus dan kemudian menyampaikan pesan dan berkat “Urbi et Orbi” (Kota dan Dunia) dua kali setahun.***

Osmar Siahaan

Komentar