Paus Fransiskus Sudahi Kunjungan di Irak

Pertemuan antara Paus Fransiskus (kanan), dan pemimpin Muslim Syiah Ayatollah Ali al-Sistani (kiri) di Najaf, Irak, Sabtu (6/3).

BAGHDAD – Paus Fransiskus menyudahi kunjungan kepausan pertamanya di Irak, Senin (8/3). Kunjungan Paus di Irak berjalan lancar, mesi i ada kekhawatiran tentang faktor keamanan dan gelombang kedua virus korona di negara tersebut.

Paus berusia 84 tahun itu menempuh jarak lebih dari 1.400 kilometer di Irak. Ia menyemangati komunitas Kristiani yang populasinya semakin menurun di Irak, dan menjalin keakraban kepada Muslim Syiah dengan bertemu ulama terkemuka Ayatollah Ali Sistani.

“Dalam waktuku di antara kalian, saya mendengar suara kesedihan dan kehilangan, tetapi juga suara harapan dan penghiburan,” ujar Paus Fransiskus, Minggu (7/3) menutup acara publik terakhirnya.

“Sekarang waktunya sudah dekat bagi saya untuk pulang ke Roma. Namun, Irak akan selalu bersamaku, di hatiku,” katanya.

Selama tiga hari penuh di Irak, paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu memimpin lebih dari 6 kebaktian di jumlah kota sekitar itu, dan berulang kali membangkitkan harapan serta persaudaraan.

 Sebelumnya di Baghdad pada Jumat (5/3), ia menyerukan diakhirinya kekerasan dan ekstremisme, juga mendesak para pejabat untuk berbuat lebih banyak guna memerangi korupsi.

Fransiskus menyebut minoritas Yazidi sebagai korban tak bersalah dari kekejaman brutal dan tidak masuk akal, setelah ISIS melancarkan serangan ke mereka pada 2014.

Dia juga bertemu dengan anggota minoritas lainnya dalam upacara antaragama di Ur, tempat Nabi Ibrahim diyakini dilahirkan. Pada Sabtu (6/3),Paus Fransiskus bertemu dengan Sistani yang sangat tertutup tetapi sosoknya dihormati warga.

Paus menyampaikan, umat Kristiani di Irak memiliki hak untuk terus hidup damai. Kemudian pada hari terakhirnya di Irak,  Minggu (7/3), Paus memberi dorongan moral untuk orang-orang Kristiani yang menderita trauma.

Disebutnya, eksodus umat Kristen tidak hanya merugikan secara individu dan komunitas yang bersangkutan, tetapi juga masyarakat yang ditinggalkan.

 

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp