International Media

Jumat, 27 Mei 2022

Jumat, 27 Mei 2022

Pasukan Rusia Dituding Kubur 9.000 Warga Sipil Mariupol

Pekerja darurat Ukraina bekerja di sisi rumah sakit bersalin yang rusak akibat serangan udara di Mariupol, Ukraina

KIEV- Pasukan Rusia dituding mengubur antara 3.000 hingga 9.000 warga sipil di Mariupol, Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim telah berhasil menguasai kota pelabuhan tersebut.
“Di Desa Mangush, penjajah (Rusia) bisa mengubur antara 3.000 hingga 9.000 warga Mariupol. Hal ini ditunjukkan dengan perbandingan dengan foto satelit pemakaman di Bucha, di mana 70 orang ditemukan (setelah kuburan massal) digali dan diisi dengan mayat setiap hari sepanjang April. Sumber kami mengatakan bahwa di kuburan seperti itu, mayat ditempatkan di beberapa lapisan,” kata Dewan Kota Mariupol, Jumah (22/4), dilaporkan kantor berita Ukrinform yang dikelola pemerintah Ukraina.
Wali Kota Mariupol Vadym Boychenko menuduh Rusia turut mengubur ratusan warga sipil di luar Mariupol. “Mereka (pasukan Rusia) membawa mayat warga Mariupol yang tewas dengan truk dan membuangnya ke parit-parit itu. Mereka menyembunyikan kejahatan militer mereka,” katanya.
Pada Kamis lalu, Vladimir Putin mengklaim bahwa pasukan Rusia telah memenangkan pertempuran di Mariupol. Kota pelabuhan tersebut telah berada di bawah pengepungan Rusia selama berminggu-minggu. Karena telah memenangkan pertempuran, Putin membatalkan operasi untuk menyerbu pabrik baja Azovstal.
Pabrik tersebut merupakan benteng pasukan Ukraina di Mariupol.

“Dalam hal ini, kami perlu memikirkan, maksud saya, kami selalu perlu memikirkannya, tapi khususnya dalam kasus ini, kami perlu berpikir tentang melindungi nyawa serta kesehatan prajurit dan perwira kami. Tidak ada alasan untuk menembus jalur bawah tanah ini dan di bawah fasilitas industri ini,” kata Putin saat membatalkan operasi penyerbuan pabrik baja Azovstal, dilaporkan kantor berita Rusia, TASS.
Kendati demikian, Putin memerintahkan agar pabrik itu diblokir secara ketat. Setelah itu pasukan Ukraina akan diminta menyerah dan meletakkan senjata mereka dengan imbalan pengampunan atau amnesti. Sebelum ada perintah pembatalan penyerbuan, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan, pasukan negaranya diperkirakan hanya membutuhkan waktu tiga atau empat hari lagi untuk merebut kendali atas pabrik baja Azovstal.
Sebelumnya Pemerintah Ukraina mengatakan siap mengadakan negosiasi “putaran khusus” dengan Rusia di Mariupol. “Ya. Tanpa syarat apa pun. Kami siap mengadakan ‘putaran khusus negosiasi” tepat di Mariupol,” kata penasihat presiden Ukraina yang juga berperan sebagai negosiator, Mykhailo Podolyak, lewat akun Twitter-nya, Rabu (20/4).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, pasukan negaranya tidak mampu membuka blokade dan pengepungan pasukan Rusia di Mariupol. Ia secara terbuka meminta bantuan dari sekutu Barat. “Ada dua cara untuk membuka blokir Mariupol. Yang pertama adalah bantuan serius dan senjata berat yang kami serta mereka (pasukan Ukraina di Mariupol) andalkan. Dengan tindakan bersama kita dapat membuka blokir Mariupol,” kata Zelensky dalam konferensi pers bersama Presiden Dewan Eropa Charles Michel di Kiev, Rabu.
Menurut Zelensky, saat ini Ukraina belum memiliki cukup persenjataan semacam itu untuk membebaskan Mariupol dari kepungan pasukan Rusia. “Cara kedua (untuk membuka blokade Mariupol) adalah diplomatik. Rusia belum menyetujuinya,” ucapnya.
Sementara itu, seorang anggota parlemen Rusia mengusulkan untuk mengambil secara paksa darah tawanan perang. Darah orang Ukraina tersebut rencananya akan digunakan untuk merawat warga sipil dan tentara Rusia yang terluka dalam invasi ke negara tetangganya itu.
Sergey Leonov, anggota parlemen dari Duma, telah membuat usulan seperti itu, menurut laporan Euromaidan Press pada Rabu (20/4) malam. Menurut Leonov, hanya orang yang memungkinkan untuk sembuh saja yang akan mendapatkan transfusi darah.
“Tentu saja, kita berbicara tentang donor yang masuk akal, dan hanya untuk mereka yang kesehatannya memungkinkan yang akan mendapatkannya,” kata Leonov, dilansir laman NY Times Post, Kamis (21/4).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres meminta para pemimpin Rusia dan Ukraina menerimanya di Moskow dan Kiev.
Guterres akan menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk membahas langkah-langkah guna mewujudkan perdamaian kedua negara.
Guteres juga menyerukan gencatan senjata kemanusiaan selama empat hari di Ukraina untuk memungkinkan pembukaan koridor bantuan kemanusiaan selama Pekan Suci Kristen Ortodoks.
Guterres menyatakan, selama gencatan senjata yang diusulkan tersebut, warga sipil akan dievakuasi dari “wilayah-wilayah konfrontasi saat ini atau yang berpotensi” dan bantuan kemanusiaan akan dikirimkan ke daerah-daerah yang membutuhkan seperti Mariupol, Donetsk, Lugansk, dan Kherson.

Frans Gultom

Komentar

Baca juga