Pacu Produksi Blok Rokan, Pertamina Bakal Bor 161 Sumur

JAKARTA – Produksi minyak Blok Rokan yang akan dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) diproyeksi bakal mengalami peningkatan.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan, strategi dalam pengelolaan Blok Rokan pasca transisi untuk jangka pendek pada 2021 adalah mempertahankan produksi dan transisi yang sukses ke PHR.

Periode 2022-2025 adalah upaya peningkatan produksi dengan investasi yang signifikan termasuk telah berproduksinya Chemical EOR di Minas. Jangka panjang pada 2026 adalah produksi yang tinggi sesuai long term plan (LTP) PHR Rokan.

“Mengingat kontribuasi Blok Rokan yang sangat besar tersebut, pemerintah bersama SKK Migas telah memberikan perhatian ketika blok ini dalam proses peralihan dari kontraktor Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PHR. Untuk menjaga agar produksi Blok Rokan tetap tinggi dan bisa dijaga secara optimal, telah ditandangani Head of Agreement (HOA) antara SKK Migas dan CPI pada 28 September 2020,” kata Fatar  dalam keterangan tertulis, Jumat (23/7).

Di sisi lain, lanjut Fatar, Production Sharing Contract (PSC) Rokan tidak mengatur pencadangan Abandonment Site Restoration (ASR). Dengan demikian, untuk menjaga tingkat produksi WK Rokan sangat bergantung kepada pengembalian biaya investasi. Dengan adanya perjanjian Head Of Agreement (HOA), akan menjamin ketersediaan dana ASR serta pengembalian biaya investasi dapat dijamin. Jumlah program pemboran pada masa alih kelola di HOA sendiri berjumlah 192 sumur.

“Namun melihat perkembangan yang ada, target pemboran tidak tercapai. SKK Migas telah melakukan koordinasi dengan PHR agar menggenjot pemboran sumur agar target produksi dan lifting 2021 dapat dicapai,” ujar Fatar.

Sementara  Direktur Utama PHR, Jaffee Arizon Suardin  mengatakan, pengeboran adalah cara untuk mendorong produksi Blok Rokan. Pengeboran yang tidak diselesaikan oleh operator eksisting akan dilanjutkan PHR.

“Pengeboran adalah salah satu upaya menjaga produksi Blok Rokan, dari target 192 sumur yang tadi disampaikan Wakil Kepala SKK Migas tadi, yang tidak bisa direalisasikan oleh existing operator akan dilanjutkan oleh PHR, termasuk sumur-sumur yang direncanakan oleh PHR. Kami perkirakan dengan asumsi 70 sumur belum bisa diselesaikan saat alih kelola, jumlah sumur yang bisa dibor sampai Desember 2021 akan mencapai sekitar 164 sumur,” kata Jaffe.

Ia menambahkan,  Blok Rokan berbeda dengan blok lainnya karena menyumbang 24% produksi minyak nasional. Serta ada 104 lapangan yang tersebar dari utara sampai ke selatan.

“Ini yang harus kita manage agar produksi bisa dipertahankan. Ada sembilan bidang prioritas alih kelola. Kami akan teruskan apa yang belum diselesaikan, mulai 9 Agustus yang tujuannya agar pada 2021 jumlah sumur tidak kurang sesuai rencana,” kata Jaffee.

Dia menuturkan, PHR akan mengebor dan menyiapkan resources untuk 161 sumur dengan asumsi 77 sumur yang belum sempat diselesaikan oleh eksisting operator. Saat ini, persiapan terus dilakukan. Pertamina sudah menyiapkan sekitar 16-17 rig dan material. Bahkan, rig dan material tersebut bisa digunakan sebelum tanggal 9 Agustus untuk bisa membantu sumur yang sedang dikerjakan eksisting operator. “Tujuannya agar proses alih kelola ini bisa jalan lancar tanpa gangguan,” katanya.***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp