International Media

Senin, 23 Mei 2022

Senin, 23 Mei 2022

Olahraga 30 Menit Bantu Kurangi Gejala Depresi

ilustrasi lari

JAKARTA — Studi baru menyebutkan bahwa berolahraga selama setengah jam dapat mengurangi gejala depresi selama setidaknya 75 menit pascalatihan. Bahkan, olahraga juga memperkuat manfaat terapi.
“Banyak penelitian sebelumnya tentang efek olahraga pada kesehatan mental, secara umum. Yang kami minati, khususnya, adalah bagaimana olahraga berat, yaitu, satu sesi olahraga dalam sehari, mempengaruhi gejala utama depresi,” kata profesor kinesiologi di Iowa State University dan penulis utama kedua makalah, Jacob Meyer dilansir Futurity, kemarin.
Studi pertama, yang muncul di Psychology of Sport and Exercise, peneliti merekrut 30 orang dewasa yang mengalami depresi berat. Para peserta mengisi survei elektronik sebelum, setengah jalan, dan setelah sesi 30 menit bersepeda atau duduk dengan intensitas sedang. Kemudian, mereka mengisi survei lagi setelah 25, 50, dan 75 menit setelah sesi latihan.
Setiap survei menyertakan pertanyaan standar dan skala yang digunakan untuk mengukur gejala depresi, serta beberapa tugas kognitif, termasuk tes Stroop, di mana peserta menanggapi warna font tertentu daripada kata itu sendiri, misalnya, menunjukkan merah ketika mereka melihat kata biru dengan tinta merah.
Para peneliti kemudian menggunakan data survei untuk melacak setiap perubahan dalam tiga karakteristik gangguan depresi mayor, yaitu keadaan suasana hati yang tertekan (misalnya, sedih, putus asa, muram), anhedonia (yaitu, kesulitan mengalami kesenangan dari aktivitas yang sebelumnya dinikmati), dan penurunan fungsi kognitif (misalnya, kesulitan berpikir, menyulap banyak informasi sekaligus).
Selama eksperimen bersepeda, kondisi mood depresi partisipan meningkat selama 30 menit latihan dan secara konsisten hingga 75 menit sesudahnya. Peningkatan anhedonia mulai menurun pada 75 menit setelah latihan, tetapi masih lebih baik daripada tingkat anhedonia peserta pada kelompok yang tidak berolahraga.
Sedangkan untuk fungsi kognitif, peserta yang bersepeda lebih cepat pada tes Stroop di tengah latihan, tetapi relatif lebih lambat 25 dan 50 menit setelah latihan dibandingkan dengan peserta dalam kelompok istirahat. Meyer mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami variasinya.
“Hal yang keren adalah manfaat ini untuk keadaan suasana hati yang tertekan dan anhedonia bisa bertahan lebih dari 75 menit,” ujar Meyer.
Secara keseluruhan, Mayer menyebut studi percontohan menunjukkan latihan tampaknya memiliki beberapa efek pada depresi dan beberapa mekanisme terapi. Salah satu mekanisme itu berkaitan dengan hubungan antara klien dan terapis. Jika seseorang merasakan hubungan dengan terapis mereka, maka ada kemungkinan lebih tinggi peserta melanjutkan terapi.
Dalam studi percontohan, peserta yang berolahraga sebelum sesi terapi perilaku kognitif melaporkan hubungan yang lebih cepat dan kuat dengan terapis mereka. Para peneliti mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa olahraga mungkin menjadi persiapan atau memupuk otak untuk terlibat dengan pekerjaan yang lebih menantang secara emosional, yang dapat terjadi selama terapi.
Para peneliti berharap untuk memperluas studi inovatif pada tahun-tahun mendatang untuk lebih memahami bagaimana olahraga dapat dimasukkan ke dalam pengobatan atau intervensi efektif terhadap orang yang mengalami depresi kronis.***

Frans Gultom

Komentar