Wednesday, 08 February 2023

Wednesday, 08 February 2023

Mural di Tembok Stasiun Jatinegara, PPSU: Supaya Kawasan Tidak Seram

Mural di area tembok luar Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur.

JAKARTA- Sepanjang area luar tembok Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, dihiasi oleh beragam mural bertema kebudayaan Jakarta. Di tembok itu, masyarakat disuguhi informasi seputar transportasi umum yang dapat ditemui di Ibu Kota, serta alat musik, kesenian, dan makanan tradisional Betawi.

Petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) Kelurahan Rawa Bunga, Chairul Ami, menjelaskan, mural tersebut dibuat dengan tujuan untuk menghilangkan kesan seram di kawasan stasiun. “(Tembok digambar) buat ilangin kesan kumuh karena temboknya (dulu) memang kumuh dan gelap. Itu coba diwarnain biar enggak ada kesan seram,” terang dia di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (16/1).

Menurut Chairul, mural yang membentang mulai dari sisi kiri pintu masuk Stasiun Jatinegara hingga beberapa meter sebelum Halte Transjakarta Pasar Enjo ini sudah ada selama lebih kurang tiga tahun belakangan.

Bahkan, beberapa mural yang menghiasi tembok sepanjang lebih kurang 1 kilometer (KM) ini sudah dicat ulang dua kali untuk mempercantik tampilannya. Namun, tidak semua mural digambar oleh PPSU Kelurahan Rawa Bunga. “Yang digambar PPSU (Kelurahan Rawa Bunga) yang di stasiun sampai Flyover Jatinegara, itu karya PPSU (kami),” jelas Chairul.

“Kalau dari Flyover Jatinegara sampai sana-sana enggak tahu siapa. Kemungkinan PPSU juga, cuma beda regu,” imbuh dia.
Terkait tema mural yang terpampang di tembok area luar stasiun, Chairul mengungkapkan bahwa hal tersebut berdasarkan arahan dari pihak Kelurahan Rawa Bunga.

“Emang dapat konsep dari situ (pihak kelurahan). Waktu pas ulang tahun Jakarta, dapat konsep untuk (gambar) ondel-ondel dan makanan khas Betawi,” ujar dia.

Adapun gambar dilukiskan pada area tembok yang gambar lamanya sudah mulai pudar menggunakan cukup banyak cat.

Sementara saat momen Jakarta Hajatan, pihaknya mendapat pesanan untuk menggambar tema lainnya. “Gambar disesuaikan sama momen. Pengecatan ulang (untuk gambar baru) tergantung pimpinan,” imbuh Chairul. ***

Prayan Purba

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media