Militer Myanmar Semakin Brutal, 618 Tewas Termasuk 48 Anak-anak

YANGON(IM) – Kudeta militer di Myanmar terus menimbulkan konsekuensi mematikan bagi warga sipil yang secara terbuka menentangnya. Sebuah laporan menyatakan lebih dari 80 orang tewas di sebuah kota dalam pertumpahan darah terbaru oleh militer Myanmar .
Kelompok pemantau lokal, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) setidaknya 82 orang tewas di kota Bago, Myanmar akibat tindakan brutal pasukan keamanan.
Sementara itu rekaman yang diverifikasi oleh AFP pada Jumat pagi memperlihatkan penumpasan brutal di kota Bago, yang berjarak 65 kilometer sebelah timur Yangon.
Rekaman itu menunjukkan pengunjuk rasa bersembunyi di balik barikade karung pasir sambil membawa senapan rakitan. Terdengar suara ledakan sebagai latar belakangnya.
Seorang penduduk mengatakan pihak berwenang menolak untuk membiarkan petugas penyelamat berada di dekat mayat para korban.
“Mereka menumpuk semua mayat, memasukannya ke dalam truk tentara dan membawanya pergi,” katanya kepada AFP yang dinukil France24, Minggu (11/4).
Kekerasan di Bago menambah jumlah korban tewas dalam aksi kekerasan terhadap demonstrasi anti kudeta. Hingga hari Jumat, AAPP, yang telah melacak insiden dan korban jiwa, melaporkan bahwa setidaknya 618 orang, termasuk setidaknya 48 anak-anak, telah dibunuh oleh junta dalam waktu kurang dari dua bulan sejak militer mengambil alih seperti disitir dari CBS News.
Sedangkan veris junta, korban tewas adalah 248.
Terlepas dari pertumpahan darah yang terjadi setiap hari, pengunjuk rasa terus turun ke jalan dengan demonstran yang menunjukkan ketidakpuasan mereka dengan cara yang sangat kreatif.
Di pusat komersial Yangon, cat merah – melambangkan darah yang sudah tumpah – disiramkan ke jalan-jalan untuk melihat Pagoda Shwedagon yang bersejarah.
Selebaran dengan kata-kata “Mereka tidak akan memerintah kita” tersebar di seluruh lingkungan Yangon.
Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada Februari lalu, dengan pengunjuk rasa menolak untuk tunduk pada junta dan menuntut kembali ke demokrasi.
Sementara itu, Aliansi pasukan etnis di Myanmar menentang tindakan keras junta terhadap para pendemo antikudeta. Media domestik Shan News melaporkan bahwa pasukan etnis itu menyerang sebuah kantor polisi di timur negara pada Sabtu (10/4) waktu setempat. Akibatnya, 10 anggota polisi dilaporkan tewas.
“Kantor polisi di Naungmon di negara bagian Shan diserang pagi-pagi sekali oleh pejuang dari aliansi yang mencakup Tentara Arakan, Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang, dan Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar,” lapor media tersebut.
Shan News mengatakan, sedikitnya 10 polisi tewas, sedangkan kantor berita Shwe Phee Myay menyebutkan jumlah korban tewas 14 orang. Seorang juru bicara junta tidak membalas telepon untuk dimintakan komentar.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp