Friday, 19 April 2024

Search

Friday, 19 April 2024

Search

Menperin Sebut  Indonesia Punya Fondasi Kuat Jadi Negara Industri

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Jumpa Pers Akhir Tahun 2022 dan Seminar Outlook Industri 2023 di Jakarta. (Foto: Kemenperin).

JAKARTA – Perjalanan pembangunan sektor industri manufaktur nasional pada tahun 2022 masih diwarnai dengan gejolak dan tantangan baik dari dalam negeri maupun global. Namun demikian, dibandingkan dengan negara-negara tetangga maupun negara industri maju lainnya, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk terus melangkah dan menjawab semua tantangan yang ada di depan mata.

“Hal ini merupakan bagian kecil dari suatu pencapaian yang lebih besar. Semua dapat dicapai dengan kerja sama yang baik dari semua stakeholder, demi industri dan Indonesia yang lebih baik,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Jumpa Pers Akhir Tahun 2022 dan Seminar Outlook Industri 2023 di Jakarta, seperti dikutip dari laman Kemenperin, Rabu ( 28/12).

Agus mengemukakan, pada tahun 2020, pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas sempat tertekan hingga minus 2,52 persen karena dampak pandemi Covid-19. Akan tetapi, melalui berbagai kebijakan strategis untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional, kinerja sektor industri manufaktur di tanah air terus bangkit.

“Kinerja kembali bergairah pada tahun 2021 dengan angka pertumbuhan sebesar 3,67 persen. Kemudian tren positif berlanjut pada tahun 2022, yang tercermin pada triwulan I tumbuh sebesar 5,47 persen, triwulan II sebesar 4,33 persen, dan triwulan III sebesar 4,88 persen,” sebutnya.

Capaian gemilang tersebut membuktikan bahwa pemerintah mampu menjaga kondisi industri agar tetap tumbuh positif di tengah gejolak dan tantangan yang ada. “Adapun dari aspek kontribusi dalam PDB, kontribusi industri pengolahan nonmigas pada triwulan III tahun 2022 sebesar 16,10 persen. Namun demikian, tidak serta merta berarti industri mengalami deindustrialisasi,” kata Agus.

Menurutnya, kontribusi industri masih merupakan yang tertinggi di antara sektor ekonomi lainnya. “Ini merupakan tugas kita bersama, bagaimana meningkatkan kinerja industri kembali sehingga kita bisa menjadi negara industri,” imbuhnya.

Dari sisi ekspor, sumbangsih dari sektor manufaktur terus meningkat meski di tengah kondisi dunia yang sedang tidak stabil. Nilai ekspor industripada Januari-Oktober 2022 mencapai USD173,20miliar atau berkontribusi 76,51 persen dari total nilai ekspor nasional.

“Angka tersebut telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang tahun 2020 sebesar USD131,09 miliar. Jika dibandingkan dengan Januari-Oktober 2021, maka kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-Okober 2022 meningkat sebesar 20,39%,” ujarnya.

Kinerja ekspor sektor manufaktur ini sekaligus menjadi tulang punggung pertumbuhan perekonomian nasional.

Berikutnya, realisasi investasi di sektor manufaktur pada Januari-September (sampai triwulan III) tahun 2022 tercatat sebesar  Rp343,06 triliun. Angka ini naik 49,24 persen jika dibandingkan dengan realisasi investasi pada periode yang sama di tahun 2021 sebesar Rp229,87 triliun. “Realisasi investasi tahun 2022 bisa dibilang pencapaian realisasi dengan nilai tertinggi dibandingkan dari tahun 2019-2021 di saat dunia sedang penuh dengan tantangan ini,” tutur Agus.

Pada aspek ketenagakerjaan, sektor industri manufaktur menunjukkan pemulihan dari segi penyerapan tenaga kerja. Akibat dampak pandemi Covid-19, jumlah tenaga kerja di sektor industri manufaktur berkurang sebanyak 2 juta orang, dari 19,14 juta orang pada tahun 2019 ke 17,4 juta orang pada tahun 2020.

Seiring dengan harapan membaiknya kondisi global dan perekonomian nasional, Agus memproyeksi sektor industri manufaktur akan tumbuh sebesar 5,01 persen pada tahun 2022, dan pada tahun 2023 diperkirakan tumbuh antara 5,1-5,4 persen.***

Vitus DP

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media