International Media

Jumat, 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022

Memperingati Hari Kartini, PINTI Gelar Seminar “Perempuan Kunci Strategis Pembangunan Bangsa”

Teddy Sugianto, dr Metta Agustina, Nancy Wijaya dan Haris Chandra berfoto bersama narasumber seminar.

JAKARTA—Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2022 lalu, PINTI (Perempuan Indonesia Tionghoa) yang merupakan organisasi sayap Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa), menggelar Pentas Seni, Bedah Buku dan Seminar bertajuk “Perempuan Kunci Strategis Pembangunan Bangsa”.

         

Kegiatan dilangsungkan pada Minggu (24/4) di Hariston Hotel & Suites, Jakarta. Dihadiri oleh Ketua Umum Perhimpunan INTI Teddy Sugianto dan jajaran, Ketua PINTI dr Metta Agustina, MARS, para anggota Perhimpunan INTI dan PINTI serta masyarakat umum.

          Acara diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars INTI dan Hymne PINTI tersebut diisi dengan pertunjukan musik angklung dari Paguyuban Meizhou Indonesia, Line Dance dan pertunjukan Tarian Betawi.

Narasumber seminar “Perempuan, Kunci Strategis Pembangunan Bangsa”.

          Lalu ada sesi Bedah Buku Lia Zhang berjudul Enru & Antologi Dalam Satuan Waktu yang Sangat Panjang dan Seminar Kebangsaan dengan Keynote Speaker Prof Dr Meutia Farida Hatta Swasono dan narasumber Prof Dr Siti Musdah Mulia, Pdt Sylvana Maria Apituley, M Th dan Budi S Tanuwibowo. Seminar dipandu oleh Julie Lau.

Sesi bedah buku Lia Zhang.

          Ketua Umum INTI Teddy Sugianto dalam kata sambutannya, mengatakan Seminar berjudul “Perempuan, Kunci Strategis Pembangunan Bangsa”, sebuah tema yang tepat menggambarkan betapa pentingnya peranan perempuan bagi kemajuan sebuah bangsa, tak terkecuali kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Teddy Sugianto dan jajaran berfoto bersama para pengurus dan anggota PINTI.

          “Entah bagaimana jadinya bila Raden Adeng Kartini tidak membuka pintu kesadaran tentang betapa pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan ketika itu. Mungkin kaum perempuan belum beranjak dari dapur, sumur dan kasur. Dan yang pasti Indonesia belum tentu semaju sekarang. Oleh karenanya, selain perlu berterimakasih pada perjuangan Raden Ajeng Kartini, perempuan Indonesia harus semakin sadar bahwa semangat perjuangan Kartini tidak boleh padam, karena tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Semua harus diperjuangkan dan diusahakan sendiri. Semua harus digelorakan terus-menerus. Maka semangat juang harus selalu dijaga, dirawat dan dikembangkan,” ujar Teddy Sugianto.

Penampilan paduan suara PINTI.
Pertunjukan Line Dance.

          Ketua PINTI dr Metta Agustina, MARS, yang juga memberikan kata sambutan menyampaikan pandangannya tentang Kartini.

          “Kartini mampu mendobrak pemikiran-pemikiran tentang keberadaan wanita Indonesia, dengan memperjuangkan emansipasi wanita. Kartini menjadikan pendidikan sebagai alat untuk memajukan sebuah bangsa. Kartini ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar, melalui bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”,” jelasnya.

Para hadirin yang mengikuti seminar.

          Dia menambahkan bahwa gagasan dan pemikiran RA Kartini banyak mengubah pola piker, mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaum wanita dari kebodohan. ***

Sukris Priatmo

Komentar

Baca juga