International Media

Jumat, 27 Mei 2022

Jumat, 27 Mei 2022

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira : Kita Sembahyang untuk Membuat Jiwa Lebih Mulia dan Punya Kekuatan

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira bersama bhiksu sangha dan donatur berfoto bersama.

JAKARTA— Siddharta Gautama yang lahir sebagai pangeran dan hidup dalam kemewahan, namun beliau sadar diri melihat secara nyata bahwa kehidupan manusia itu selalu berubah, beliau melihat orang tua, orang sakit, orang meninggal dunia dan akhirnya beliau terpanggil mencari jalan, bagaimana manusia hidup bisa keluar dari samsara, beliau pun belajar dan bertapa lalu menjadi Buddha. Setelah sempurna beliau melihat kehidupan dan memahami bahwa kehidupan manusia itu ada tiga, satu jiwanya, dua perbuatannya, tiga sebagai manusia dibatasi oleh sang waktu. Karena melihat tiga poin ini, beliau mengajarkan bahwa kita semua dalam melihat kenyataan hidup harus dari jiwa.

          Demikian disampaikan Ketum Majelis Agama Buddha Mahayana Tanah Suci  Indonesia YM.Dr.(H.C) Maha Bhiksu Dutavira Sthavira dalam upacara memperingati Hari Besar Tri Suci Waisak 2566 BE/2022 di Vihara Avalokitesvara – Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia, Jalan Mangga Besar, Jakarta, Minggu (8/5).

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira.

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira melakukan ritual memandikan Rupang Buddha.

          Salah satu pemuka Agama Buddha di Indonesia yang akrab disapa Suhu Beni ini kembali menyampaikan bahwa jiwa harus terus dilatih, kita tidak boleh mempunyai sifat jiwa pengemis. Kita harus mau memposisikan menjadi jiwa orang yang kaya. orang jiwanya kaya itu mau memberi. Kita diajarkan jiwa yang bahagia.

          Hanya kita mau jadi manusia yang berguna, memberi itu membuka jalan kegembiraan dan kebahagiaan. Kalau sembahyang Agama Buddha jiwanya itu memberi. Ini yang disebut semoga makhluk beruntung dan bahagia.

          Biasakan jiwa kita memberi, ini yang dinamakan setiap berdoa kita menanam benih kebahagiaan. Bila benih tidak ditanam bagaimana bisa berbuah, bila benih yang ditanam tidak dirawat bagaimana hasilnya bisa berlimpah.

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira memimpin doa.

Prosesi pembacaan kitab suci dan doa.

          Kita diajarkan untuk introspeksi agar bisa lebih baik lagi, jangan kita membiasakan jiwa kita jiwa miskin, berharap dipuji orang, berharap orang ngomong yang baik kepada kita. Itu tidak ada gunanya.   Perihal jiwa inilah yang diajarkan dalam upacara Waisak. Kita sembahyang untuk membuat jiwa kita lebih mulia dan punya kekuatan.

Prosesi mengelilingi tempat ibadah.

Suhu Beni mengingatkan bahwa kita harus membuat jiwa memberi bukan meminta. Ini harus diwujudkan dalam perbuatan dan diperkuat dalam sembahyang. Kita memperingati Waisak, merupakan satu kenyataan bahwa manusia bisa gembira dan bahagia.

Suasana prosesi upacara sembahyang yang berlangsung khidmat.

Dalam kondisi sekarang yang tidak mudah ini, bikin jiwa kita gembira dan Bahagia. Sudah dibuktikan dalam ilmu kedokteran, imunisasi, daya tahan tubuh manusia yang paling hebat adalah hormon tubuhnya sendiri. Dalam  diri kita ini mempunyai empat kekuatan, kita punya kekuatan hormon, kekuatan daya tahan, itu mesti dilatih, kekuatan rasa bisa bikin kita gembira, kekuatan bisa bangkitkan semangat. ***

Sukris Priatmo

Komentar

Baca juga