Markas Besar Partainya Suu Kyi di Bom

YANGON(IM) – Markas besar Liga Nasional untuk Demokrasi, partainya Aung San Suu Kyi, mengalami kebakaran setelah dilempari bom molotov pagi tadi (26/3). Pemimpin sipil Myanmar yang dikudeta junta militer itu hingga saat ini masih ditahan.
Negara itu mengalami kekacauan sejak junta militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu, yang memicu pemberontakan massal yang menuntut dikembalikannya demokrasi.
NLD telah berantakan sejak kudeta, di mana beberapa anggota parlemen dari partai tersebut memilih bersembunyi.
Sekitar pukul 04.00 pagi tadi, seorang penyerang melemparkan bom molotov ke markas NLD di Yangon, dan menyebabkan kebakaran singkat.
“Ketika penduduk di sekitar mengetahui tentang kebakaran itu, mereka menelepon dinas pemadam kebakaran untuk memadamkannyaitu dikendalikan sekitar pukul 05.00 pagi,” kata Soe Win, seorang anggota NLD yang bertanggung jawab atas markas tersebut, kepada AFP.
“Tampaknya seseorang menyalakan koktail Molotov dan melemparkannya ke markas,” katanya lagi.
Menurutnya, hanya pintu masuk kantor yang hangus, dan anggota partai sudah berada di dalam untuk menilai kerusakan.
“Kami harus mengajukan pengaduan ke polisi. Kami tidak tahu siapa yang melakukan ini, tapi itu sama sekali tidak baik,” kata Soe Win, yang menolak untuk berspekulasi tentang alasan penyerangan tersebut.
Insiden itu terjadi pada malam Hari Angkatan Bersenjata, ketika militer akan menunjukkan kekuatan dengan parade tahunannya.
Ketakutan telah berputar-putar bahwa hari itu bisa menjadi titik nyala.
Bangunan yang diserang itu adalah tempat terjadinya banyak demonstrasi pada minggu-minggu pertama setelah kudeta militer, yang dibenarkan oleh junta dengan mengutip kecurangan dalam pemilu November 2020 yang dimenangkan oleh NLD sebagai alasannya.
Tetapi aksi unjuk rasa jalanan sekarang menjadi urusan yang mematikan, karena pasukan keamanan semakin mengerahkan gas air mata, peluru karet, dan peluru tajam untuk melawan demonstran.
Sejauh ini, 320 orang telah tewas dalam kerusuhan anti-kudeta. Data itu menurut kelompok pemantau lokal, meskipun junta militer mengumumkan jumlah korban tewas hingga Selasa lalu sebanyak 164 orang.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp