Mantan Konjen Tiongkok Gou Haodong : Industri Pariwisata Perlu Kembangkan Layanan yang Lebih Personal dan Beragam

KI-KA :I Gusti Ngurah Widyatmaja, Hendri Hidayat,I Made Sumada,Ida Bagus Wyasa Putra dan I Made Sendra.

DENPASAR–Dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek, mantan Konjen Tiongkok di Denpasar Gou Haodong diundang untuk berpartisipasi dalam seminar online bertajuk “Mendorong Kelompok Wisatawan Tiongkok dan Revitalisasi Industri Pariwisata Bali” yang diseleggarakan Universitas Udayana Bali.

Hadir dalam seminar tersebut Direktur PBM Universitas Hasanuddin pihak Tiongkok Tao Xianguang, Direktur PBM Universitas Udayana pihak Indonesia I Made Sendra, Wakil Rektor Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama & Informasi Universitas Udayana Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra,SH, M.Hum, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Drs. I Made Sumada, Executive Director Oriza Holiday Hendri Hidayat dan tokoh lainnya menyampaikan pidato dalam seminar online tersebut.

Keynote speaker Jumat (26/2) lalu membuat tautan video online dengan hampir 80 praktisi pariwisata, guru bahasa Mandarin dan media di Gedung Komplek Agro Komplek Kampus Universitas Udayana.

Keynote speaker Gou Haodong mengusulkan perlunya mengadakan seminar ini selama epidemi. Juga secara langsung menunjukkan bahwa cara wisatawan Tiongkok ke Bali di masa mendatang akan menunjukkan tiga perubahan tren.

Pertama, wisata berkelompok menurun secara signifikan,  Kedua, kelompok wisatawan kecil yang terdiri dari keluarga, kerabat dan teman akan menjadi sumber utama pariwisata, Ketiga, free travel dan semi-free travel akan menjadi bentuk utama pariwisata di masa depan.

Karena itu, masa depan industri pariwisata di Bali perlu menyesuaikan dan mengembangkan layanan sesuai kepribadian yang beragam.

Terakhir, Gou Haodong juga mengemukakan sejumlah kebijakan terkait. Diharapkan harga tidak dijadikan sebagai tujuan kompetisi. Namun harus menonjolkan konsep keramahan, filosofi hidup dan adat istiadat Bali. Terutama, tempat-tempat indah yang terintegrasi dengan sejarah dan budaya Tiongkok perlu diperkenalkan kepada lebih banyak turis Tiongkok.

Sedangkan Tao Xianguang menyebutkan bahwa fungsi dan keunggulan khusus PBM (Confucius Institute) harus terus digunakan untuk mendorong pendidikan bahasa Tionghoa dan pariwisata Bali. Membina dan melatih tenaga profesional siap pakai yang memahami bahasa Mandarin untuk industri pariwisata dan sekolah pariwisata. Juga kelak akan melakukan kerja sama pendidikan dan pertukaran budaya yang lebih luas.

Sementara itu I Made Sendra juga berbicara tentang pengaturan khusus seminar ini yang akan diadakan selama perayaan Imlek 2021. Pertimbangan utama dibaliknya adalah melihat potensi besar pasar wisata Tiongkok dalam industri pariwisata Indonesia. Dan terus bekerja keras untuk memulihkan pariwisata Bali kembali ke keadaan sebelum epidemi.

Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra,SH, M.Hum dalam seminar online tersebut juga menyebutkan bahwa Bali adalah salah satu tujuan wisata paling populer bagi wisatawan Tiongkok. Dan jejak budaya Tionghoa dapat ditelusuri kembali hingga ribuan tahun di Bali.

Ketua HPI Bali Drs. I Made Sumada terus menyampaikan warisan kuat terus menambah hubungan budaya antara Tiongkok dan Bali.

Salah satunya jaman Dalem Balingkang, Dinasti Warmadewa (1178-1181 M) yaitu kisah cinta Raja Bali Kuna, Sri Jaya Pangus dengan Putri Kang Cing Wie.

Terakhir, staf Universitas Udayana I Gusti Ngurah Widyatmaja, S.ST.Par, M.Par dan para guru menyampaikan pendapat dan sarannya.

Seminar ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan perayaan tahun baru yang diselenggarakan Universitas Udayana pada Tahun Baru Imlek 2021.

Seminar ini mempromosikan pengajaran bahasa Mandarin, untuk membina sekelompok tenaga profesional pariwisata yang bisa berbahasa Mandarin dan memahami Tiongkok bagi pulau Bali. Sekaligus meningkatkan kontribusi bagi kelanjutan pengalaman pariwisata turis Tiongkok. idn/din

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp