Monday, 04 March 2024

Search

Monday, 04 March 2024

Search

Lukas Enembe Geram Lantaran Tak Diberi Ubi dan Ketela di RSPAD

JAKARTA – Dokter pribadi Gubernur Papua, Lukas Enembe, Anton Mote mengunjungi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, untuk  membesuk Gubernur Papua itu  yang telah ditetapkan tersangka kasus korupsi oleh KPK.

Rangkaian perawatan Lukas Enembe di RSPAD mengundang keresahan bagi Anton sendiri. Sebab, politikus Partai Demokrat itu tidak diberi Ubi hingga Ketela oleh pihak rumah sakit.

“Tadi saya baru tanya tentang makan saja, di sini rumah sakit ini tidak siapkan ubi sama ketela, hanya siapkan nasi. Akhirnya hari ini karbohidratnya tidak ada,” ujar Anton, Kamis (12/1).

Anton menuturkan, bukan tanpa alasan Lukas harus diberi Ubi hingga ketela. Sebab Lukas Enembe sudah tidak lagi memakan nasi sebagai sumber karbohidrat.

“Iya beliau (Lukas) sudah tidak pernah. Akhirnya tadi makan sayur sayuran dengan kentang, karbohidratnya mana,” jelasnya.

Sehingga, kata Anton, inilah salah satu penyebab kliennya ingin berobat di Singapura.

“Inilah yang kita ini, kita berharap lebih baik lah, segera ini kita berharap beliau bisa difasilitasi bisa mendapat perawatan di Singapura,” katanya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menahan  Lukas ntuk masa penahanan pertamanya selama 20 hari ke depan, terhitung mulai 30 Januari 2023.

KPK langsung membantarkan Lukas di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, karena kondisi kesehatannya belum stabil. Lukas dibantarkan atau dilakukan perawatan sementara di RSPAD Gatot Soebroto sampai kondisinya membaik.

“Dalam rangka kepentingan penyidikan, tim penyidik melakukan penahanan terhadap saudara LE untuk 20 hari pertama terhitung tanggal 11 Januari 2023 sampai 30 Januari 2023 di Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur,” kata Ketua KPK, Firli Bahuri di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (11/1).  

Protes Tak Pakai Garuda

Adik Lukas Enembe bernama  Elius Enembe juga mendatangi RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat pada Rabu (11/1) malam. Elius mengatakan prihatin dengan perlakuan pemerintah terhadap kakaknya tersebut.

Elius mengatakan, Lukas yang telah mengabdi puluhan tahun di tanah Papua diperlakukan tidak sebanding oleh KPK maupun instansi terkait. Sebab, adanya penjemputan paksa Lukas di Jayapura.

“Bapak ini pengabdian negara 20 tahun. Kami keluarga serahkan pengabdian untuk negara 20 tahun tapi kami kasih hati minta jantung, bagaimana negara ini gak boleh minta KPK tidak boleh pun culik tidak boleh,” ujar Elius kepada wartawan, Kamis (12/1).

Tak hanya itu, lanjut Elius, penjemputan paksa Lukas oleh KPK dan jajarannya dinilai tragis. Hal ini, dikarenakan Lukas terbang ke Jakarta tidak menggunakan maskapai Garuda Indonesia. “Ini tidak syarat orang sakit ke Jakarta. Bukan pesawat Garuda lagi. Ini sudah kejahatan,”  katanya. ***

Osmar Siahaan

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media