International Media

Selasa, 29 November 2022

Selasa, 29 November 2022

Longsor Tutup Jalan di Bandung Barat, Pengendara Diminta Cari Jalur Alternatif

Petugas BPBD Bandung Barat dibantu relawan dan warga setempat tengah mengevakuasi material longsor yang menutup jalan di Desa Cikalong, Kecamatan Cikalingwetan, Kabupaten Bamdung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (4/10).

BANDUNG BARAT- Akses jalan di Kampung Lapang, Desa Cikalong, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, putus tertimbun longsor. Sebuah tembok penahan tanah (TPT) dengan lebar 8 meter dan tinggi 5 meter ambruk menutup jalan setelah diterjang hujan deras pada Senin (3/10) malam.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat, Duddy Prabowo mengatakan, peristiwa ambruknya TPT itu dipicu oleh hujan deras sebelum longsor yang terjadi sejak siang hari sampai menjelang waktu malam.

“Akibat hujan deras area Lapang Tridaya ambruk menutup jalan desa akses penyambung jalan RW 04 dan RW 01. Akibat kejadian tersebut akses jalan tertutup total,” ujar Duddy, Selasa (4/10).

Pengendara diminta mencari jalan alternatif lain lantaran akses jalan masih tertutup material longsor. Sementara warga bersama petugas BPBD dan relawan berupaya membuka akses dengan mengevakuasi material yang menutup jalan.

“Saat ini petugas dibantu relawan dan warga setempat sedang mengerjakan pembersihan material longsor dan bebatuan menggunakan alat manual,” kata Duddy.

Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut membuat genangan dan arus air di sebuah lapangan sepak bola cukup besar.

Arus air itu kemudian mengalir ke titik tembok penahan tanah, intensitas arus air yang besar itu mengakibatkan TPT di pinggir lapangan sepak bola mengalami ambruk dan menutup akses jalan. “Jadi airnya itu besar dari arah lapangan. Tiba-tiba pas magrib itu ambruk dan menutup akses jalan,” sebut Asep (54), warga setempat. Saat ini warga sekitar melakukan kerja bakti untuk membuka akses dengan mengevakuasi material longsor menggunakan alat seadanya. “Ini harus pakai alat berat biar lebih cepat. Materialnya soalnya cukup tebal dan merepotkan. Sementara ini kita pakai alat seadanya aja, warga gotong-royong,” tutur Asep. ***

Prayan Purba

Komentar