International Media

Kamis, 19 Mei 2022

Kamis, 19 Mei 2022

Lelah Jadi Tunawisma dan Kelaparan, Pengungsi Ukraina Pilih Pulang

Pengungsi berjalan setelah melarikan diri dari perang dari negara tetangga Ukraina di perbatasan di Medyka, Polandia tenggara.

JAKARTA – Pengungsi Ukraina memilih kembali ke tanah air karena lelah terlunta-lunta mencari suaka, meski masih ada risiko terkena serangan rudal atau bom Rusia.

Kepada Insider, Natalia Kulish (34 tahun) mengaku harus membuat pilihan yang menyakitkan. Dia bisa tinggal di Polandia bersama kedua anaknya, atau menjadi tunawisma sambil menunggu visa Inggris yang ternyata perlu waktu lama untuk dikeluarkan.

Pilihan ketiganya adalah untuk kembali ke Ukraina yang dilanda perang, menyatukan kembali anak-anaknya dengan ayah, namun berisiko menempatkan mereka pada ancaman serangan bom. Kulish memilih yang terakhir.

Kulish merupakan salah satu dari beberapa keluarga pengungsi yang terpaksa memutuskan untuk kembali ke Ukraina, daripada menunggu tanpa batas waktu, sampai Inggris memproses dokumen mereka.

Kulish melarikan diri dari Dnipro, di Ukraina barat, bersama anak-anaknya — Mariia (11 tahun), dan Luke (4 tahun) — pada 16 Maret. Mereka pergi ke Warsawa, di mana seorang pria Polandia setuju untuk sementara menampung mereka di apartemennya, sambil menunggu visa mereka dikeluarkan.

Namun dua minggu berlalu, dan visa masih belum dikeluarkan. Pada titik ini, Kulish dan keluarganya tidak bisa lagi tinggal di apartemen Warsawa dengan satu kamar tidur.

Menghadapi kemungkinan menjadi tunawisma, Kulish memutuskan untuk kembali ke rumahnya di Ukraina pada 2 April. Kembali di Dnipro, Kulish berkata, “malam berlalu dengan kecemasan”. Dia dan anak-anaknya harus mendengarkan sirene meraung di Ukraina, sembari menunggu dengan tidak sabar hingga visa mereka disetujui.

Nina (43 tahun), Liliia (21 tahun), dan bayi yang baru lahir, Platon. Mereka melarikan diri ke Polandia dari Ukraina dengan berjalan kaki bulan lalu. Begitu tiba di Polandia, mereka mengajukan permohonan visa “Homes for Ukraina” (Rumah untuk Ukraina).

Leila Majewska, yang berkebangsaan Polandia tetapi tinggal di Derby, Inggris, berpasangan dengan Nina, Liliia, dan Platon di grup Facebook. Majewska segera mulai mempersiapkan rumahnya untuk keluarga. Dia membeli tempat tidur bayi dan kereta dorong bayi dan dengan sabar menunggu kedatangan mereka.

Tapi ternyata proses aplikasi visa berlarut-larut. Majewska terbang ke Warsawa dan mengunjungi pusat visa bersama mereka. Majewska mengatakan keluarga diberitahu bahwa visa akan memakan waktu lima hari untuk diproses. Tetapi 17 hari sudah berlalu, kata sponsor mereka.

Nina serta Liliia pun menyadari bahwa tinggal di Warsawa tanpa batas waktu tidak lagi layak. Majewska mengatakan dia frustrasi dengan lamanya proses visa Inggris.

“Jika mereka mendapatkan visa tepat waktu, mereka tidak akan berada di sana, dan mereka akan aman dan nyaman,” katanya. Menurutnya hidup di tengah peperangan memiliki efek negatif pada kesehatan mental keluarga. “Ini penangguhan, menunggu sesuatu, tetapi Anda tidak tahu apakah itu akan benar-benar terjadi,” katanya.***

Osmar Siahaan

Komentar