International Media

Senin, 3 Oktober 2022

Senin, 3 Oktober 2022

Langkah Polri untuk Antisipasi Karhutla saat Musim Kemarau

Ilustrasi

JAKARTA – Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengungkapkan, pimpinan Korps Bhayangkara akan memberikan sanksi berat hingga pencopotan Kapolda apabila satuan kewilayahan tak melakukan antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Seperti diketahui bahwa sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta semua pihak agar mewaspadai terjadinya karhutla di musim kemarau.

“Arahan Bapak Kapolri dan juga stresing (penekanan) dari Bapak Presiden terkait karhutla kan berat. Kapolda dan Pangdam bisa dicopot kalau tidak melakukan langkah-langkah antisipasi kejadian karhutla di wilayahnya masing-masing,” kata Agus saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (10/5).

Menurut Agus, pihaknya sudah melakukan monitoring sebagai langkah antisipasi karhutla sejak lama. Ia menyatakan, terdapat aplikasi yang telah diluncurkan sehingga pemantauan dapat dilakukan setiap hari.

Agus menyebutkan, hingga saat ini belum ditemukan gangguan asap di sekitar wilayah di Indonesia akibat karhutla.

“Setiap hari laporan Satwil jajaran terkait antisipasi terjadinya karhutla juga kami terima setiap hari,” ujar Agus.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta masyarakat untuk mewaspadai datangnya musim kemarau. Jokowi juga meminta masyarakat berhati-hati akan efek yang ditimbulkan seperti kebakaran hutan dan lahan.

“Hati-hati mengenai musim kemarau, hati-hati mengenai kebakaran hutan dan lahan,” ujar Jokowi dalam memberikan pengantar pada Sidang Kabinet Paripurna, Senin (9/5).

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi suhu panas atau terik pada siang hari hingga pertengahan Mei 2022.

“Masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan di Jakarta, baru-baru ini.

Dari data hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum terukur selama periode tanggal 01 – 07 Mei 2022 di Indonesia berkisar antara 33 – 36.1 °C dengan suhu maksimum tertinggi hingga 36.1 °C terjadi di wilayah Tangerang-Banten dan Kalimarau-Kalimantan Utara.

Suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir sekitar 38.8°C di Palembang pada tahun 2019, sedangkan di bulan Mei sekitar 38.8 °C di Temindung Samarinda pada tahun 2018.

Guswanto menjelaskan, fenomena suhu udara terik yang terjadi pada siang hari tersebut dipicu oleh beberapa hal yakni posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator yang mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau, dimana tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang, sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

“Dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan Bumi, sehingga menyebabkan kondisi suhu yang dirasakan oleh masyarakat menjadi cukup terik pada siang hari,” kata Guswanto.***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga