International Media

Minggu, 2 Oktober 2022

Minggu, 2 Oktober 2022

Laba Holding Perkebunan Rp4,6 T

JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) mencatatkan sejarah atas capaian kinerja keuangannya. Perusahaan induk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang perkebunan itu meraih laba konsolidasi sebesar Rp4,64 triliun di 2021.

Capaian tersebut meningkat Rp5,73 triliun atau sekitar 500% dibanding tahun 2020 yang mengalami kerugian Rp1,14 triliun. Capaian diperoleh dari penjualan sebesar Rp53,57 triliun atau 32% di atas pencapaian tahun lalu.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani mengatakan upaya transformasi berhasil memberi dampak positif terhadap kinerja keuangan PTPN Group di 2021. Pendapatan perusahaan meningkat dari Rp39,39 triliun pada 2020, jadi Rp53,57 triliun atau 36,00 % di atas pencapaian tahun lalu.

“Kami akan terus memacu pertumbuhan pendapatan usaha melalui peningkatan produksi dan produktivitas, serta optimalisasi operasional baik di hulu maupun hilir. Pada komoditas tebu dan gula misalnya, kami akan fokus meningkatkan produktivitas lahan tebu serta merevitalisasi pabrik gula melalui anak perusahaan yang kami dirikan yaitu PT Sinergi Gula Nusantara (SGN),” kata Ghani dalam keterangan tertulis, Selasa (12/4).

Restrukturisasi organisasi dengan mengubah strategic holding menjadi operating holding, restrukturisasi utang, dan program transformasi EBITDA menjadi faktor utama keberhasilan transformasi PTPN Group. Selain itu, PTPN Holding melakukan transformasi digital sehingga dapat mengeskalasi tingkat efisiensi dan efektivitas pekerjaan agar lebih optimal.

Salah satu program kunci transformasi yang paling berperan adalah restrukturisasi utang, dimana PTPN Holding melakukan perbaikan kinerja keuangan agar tercapai bisnis yang berkelanjutan, komprehensif, dan transparan. Berkat itu manajemen PTPN Group mampu memperbaiki kesehatan finansial salah satunya menurunkan liabilitas jangka pendek melalui program restrukturisasi utang kepada perbankan.

Pada 2020 total liabilitas jangka pendek jatuh tempo sebesar Rp38,19 triliun, turun jadi Rp20,03 triliun di 2021. Turunnya angka itu membuat manajemen mampu membiayai ekspansi bisnis, dan memperbaiki arus kas (cash flow), serta memberikan ruang kepada perusahaan untuk meningkatkan belanja modal.***

Vitus DP

Komentar

Baca juga