International Media

Minggu, 22 Mei 2022

Minggu, 22 Mei 2022

Kuota BBM Subsidi Diproyeksikan Habis pada Oktober 2022

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memproyeksikan kuota bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite, Solar, dan minyak tanah akan habis pada Oktober 2022.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan konsumsi Solar tumbuh 10 persen dan konsumsi Pertalite tumbuh 14 persen pada triwulan I 2022, sedangkan konsumsi minyak tanah diprediksi tumbuh 10,09 persen pada triwulan IV 2022.

“Dasar inilah yang kami pakai untuk bisa ekstrapolasi ke akhir tahun, karena akhir tahun ini diperkirakan di Oktober alokasi kuota sudah habis kalau tidak melakukan penambahan,” ujar Arifin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu (13/4).

Pemerintah lantas menyampaikan usulan penambahan kuota BBM subsidi tersebut kepada legislator untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

Arifin memaparkan bahwa usulan penambahan kuota Pertalite sebanyak 5,45 juta kiloliter, tambahan minyak solar sebesar 2,28 juta kiloliter, dan tambahan minyak tanah sebesar 0,10 juta kiloliter.

Menurutnya, usulan penambahan volume kuota Pertalite dan Solar memperhatikan pemulihan ekonomi yang lebih cepat pasca pandemi dan melebarnya disparitas harga antara BBM subsidi dengan BBM nonsubsidi.

Pada APBN 2022, volume kuota Pertalite sebanyak 23,05 juta kiloliter dengan angka realisasi 6,48 juta kiloliter sampai dengan 2 April 2022, sehingga menyisakan kuota Pertalite sebanyak 16,57 juta kiloliter.

Sedangkan volume kuota Solar subsidi sebanyak 15,10 juta kiloliter dengan realisasi penyaluran mencapai 4,08 juta kiloliter dan menyisakan kuota sebanyak 11,02 juta kiloliter. Adapun volume kuota minyak tanah 0,48 juta kiloliter dengan realisasi 0,12 juta kiloliter dan hanya menyisakan 0,36 juta juta kiloliter.

Dalam rapat itu, Komisi VII DPR RI menyatakan dukungan mereka dan sepakat dengan usulan pemerintah untuk menambah kuota BBM subsidi dengan rincian masing-masing Pertalite 5,4 juta kiloliter menjadi 28,50 juta kiloliter, solar 2,29 juta kiloliter menjadi 17,39 juta kiloliter, dan minyak tanah 0,10 juta kiloliter menjadi 0,58 juta kiloliter.***

Vitus DP

Komentar