Kubu AHY Ungkap Peserta KLB Demokrat Deliserdang Lintas Partai

Ilustrasi

JAKARTA – Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Herzaky Mahendra Putra menganggap kubu Ketua Umum Moeldoko pelaku begal politik yang terus menebar informasi bohong dan fitnah.

“Tapi, publik pun sudah tidak mau tertipu oleh narasi bohong dan kosong mereka. Karena omongan Rahmad dan gerombolannya itu tong kosong nyaring bunyinya. Tidak ada bukti, tidak ada fakta, hanya kebohongan,” ujar Herzaky, Selasa (30/3).

Herzaky menegaskan, Menkumham Yasonna Laoly dan Menkopolhukam Mahfud MD juga sudah berulang kali menyatakan bahwa Partai Demokrat yang sah ada pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Alhamdulillah, para pemilik suara di berbagai tingkatan, pengurus DPP, DPD, DPC, maupun anggota Dewan di tiap tingkatan, dari DPR RI, DPRD Prov, dan DPRD Kab/Kota, serta kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia, semuanya kompak dan solid bersama Ketum AHY. Tidak ada yang terpengaruh oleh intimidasi dan manipulasi kubu Moeldoko,” katanya.

Lebih lanjut Zaky, sapaan akrabnya, menganggap, Moeldoko itu Ketum abal-abal hasil KLB ilegal. Karena syarat sah untuk mengusulkan KLB, tidak terpenuhi sama sekali. Dia melihat tak ada satupun pemilik suara sah, baik DPD, maupun DPC, yang mengusulkan KLB.

“Yang melaksanakan KLB ilegal pun tidak sesuai dengan ketentuan di UU Parpol. Bukan DPP Partai Demokrat yang sah, dan tidak ada surat mandat dari DPP Partai Demokrat yang sah,” ungkapnya.

“Lalu, pesertanya pun bukan pemilik suara. Banyak yang hadir sudah lama tidak aktif di Partai Demokrat. Bahkan, tidak sedikit yang berasal dari partai lain. Makanya ada yang menyebut ini KLB ilegal lintas partai,” sambung Zaky.

Zaky menyebut para begal politik yang tergabung dalam gerombolan Moeldoko ini, gagal penuhi syarat-syarat untuk buat KLB yang sah. Sehingga, terus menebar kebohongan buat menutupi kegagalan total mereka. Kata dia, satu kebohongan mereka kan perlu ditutupi dengan seribu kebohongan lainnya. “Saran kami kepada gerombolan Moeldoko, lebih baik miskin harta tapi punya harga diri, daripada kaya raya tapi berkhianat. Sekali pengkhianat, sekali tukang bohong, selamanya akan dicap pengkhianat, tukang bohong, oleh publik, oleh tetangga, oleh keluarga besarnya,” tandasnya.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp