International Media

Selasa, 29 November 2022

Selasa, 29 November 2022

Krisis Kian Parah, 2,2 Juta Balita di Yaman Menderita Kelaparan

2,2 Juta Balita di Yaman Menderita Kelaparan

YAMAN(IM) – Kelaparan telah bertahun-tahun menyengsarakan kehidupan ratusan ribu anak di Yaman. Kini, perang antara kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran dan koalisi pimpinan Arab Saudi, yang diperkirakan akan meningkat setelah berbulan-bulan gencatan senjata yang lemah, dikhawatirkan akan mempeparah situasi itu.
Joyce Msuya, Asisten Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan kemanusiaan, mengatakan di kota Hodeida, dengan populasi sekitar 3 juta, Rumah Sakit (RS) al-Thawra menerima 2.500 pasien setiap harinya, termasuk anak-anak yang mengalami kekurangan gizi parah. Hal ini dungkapkannya saat dia mengunjungi fasilitas itu bulan ini.
Sekitar 2,2 juta anak Yaman di bawah usia 5 tahun diketahui menderita kelaparan. Lebih dari setengah juta orang mengalami kekurangan gizi parah.
PBB mengatakan sekitar 1,3 juta wanita hamil atau menyusui mengalami kekurangan gizi parah tahun ini.
“Ini adalah salah satu kunjungan paling menyedihkan yang pernah saya lakukan dalam kehidupan profesional saya,” kata Msuya dalam video yang dirilis PBB, dikutip VOA.
”Ada kebutuhan yang sangat besar. Setengah dari rumah sakit Yaman tidak berfungsi, atau mereka benar-benar hancur oleh perang. Kami membutuhkan lebih banyak dukungan untuk menyelamatkan nyawa anak-anak, wanita dan pria di Yaman,” lanjutnya.
Perang di Ukraina memperburuk situasi. Makanan orang Yaman sangat bergantung pada gandum. Ukraina memasok sekitar 40% kebutuhan biji-bijian Yaman, sampai invasi Rusia memotong aliran itu. Harga makanan di Yaman kini 60% lebih tinggi daripada harga tahun lalu, dan bagi banyak orang di negara tersebut ketidakmampuan membeli pangan bisa berarti kematian.
“Yaman telah mengalami tiga kali pukulan akibat invasi Rusia ke Ukraina,” kata Peter Salisbury, pakar Yaman di International Crisis Group.
“Pertama, dengan hilangnya pasokan makanan dari Ukraina dan harga yang lebih tinggi di pasar internasional. Kemudian, dengan harga bahan bakar yang lebih tinggi. Dan ketiga, dengan pergeseran fokus internasional,” lanjutnya.
Perang telah berkecamuk selama delapan tahun di Yaman antara pemberontak Syiah Houthi dan pasukan propemerintah yang didukung oleh koalisi negara-negara Teluk Arab yang mayoritas penduduknya Sunni.
Pada 2014, Houthi yang didukung Iran menduduki Yaman Utara dan ibu kota negara itu, Sanaa, dan memaksa pemerintah yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi. Sejak itu, lebih dari 150.000 orang tewas akibat kekerasan dan 3 juta orang mengungsi. Dua per tiga penduduk terpaksa harus mendapatkan bantuan pangan.
Bantuan pangan sendiri tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Badan pangan PBB telah memotong jatah pangan jutaan orang karena kekurangan dana yang kritis dan melonjaknya harga pangan global.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, atau OCHA, Program Pangan Dunia (WFP) selama berbulan-bulan memprioritaskan 13,5 juta orang Yaman yang paling rentan.
PBB mengatakan bahwa pada akhir September, rencana respons kemanusiaan untuk Yaman hanya memperoleh USD2 miliar (Rp31 triliun) dari USD4,27 miliar (Rp66 triliun) yang dibutuhkan untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan layanan perlindungan yang menyelamatkan jiwa kepada 17,9 juta orang.

Frans Gultom

Komentar