International Media

Jumat, 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022

KPK Bantu Usut Tambang Emas Ilegal yang Libatkan Oknum Polisi di Kaltara   

Ilustrasi

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut membantu mengusut kasus tindak pidana kepemilikan tambang emas ilegal yang diduga melibatkan oknum polisi, Briptu HSB.

Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK Ali Fikri mengatakan, KPK telah berkoordinasi dengan Polda Kalimantan Utara (Kaltara) untuk mengusut kasus tersebut.

KPK bakal membantu melacak aset milik HSB yang diduga diperoleh dari hasil tindak pidana.

“Benar, Polda Kaltara sudah ada koordinasi dengan KPK. Koordinasi terkait asset tracing yang akan dilakukan,” ujar Ali melalui keterangan tertulis, Selasa (10/5).

Ali menyampaikan bahwa komisi antirasuah itu bakal membantu mengusut kasus tersebut hingga tuntas. Bahkan, KPK akan ikut memproses jika ditemukan adanya unsur tindak pidana korupsi dalam kepemilikan tambang emas ilagel tersebut.

“Tentu KPK siap bantu dan koordinasi lebih lanjut terkait hal tersebut, termasuk mengkaji apakah ada dugaan tindak pidana korupsinya pada kasus dimaksud,” ucap Ali.

Oknum polisi bernama Briptu HSB ditangkap karena diduga terlibat penambangan emas ilegal di Desa Sekatak Buji, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Anggota Polairud Polda Kaltara itu ditangkap di ruang terminal keberangkatan Bandara Juwata, Tarakan, Kaltara pada Rabu (4/5)  siang.

Penangkapan tersebut cukup menyita perhatian warga Kaltara, karena Hasbudi juga dikenal luas sebagai ketua dari salah satu organisasi etnis pemuda di provinsi termuda di Indonesia ini.

Selain HSB, polisi juga mengamankan MI yang menjadi koordinator tambang emas ilegal. Diduga saat itu HSB dan MI hendak melarikan diri. Selain itu,  diduga mereka juga berencana akan menghilangkan barang bukti serta mengaburkan fakta.

Tak hanya menangkap MI dan HSB, polisi juga mengamankan empat orang lainnya yakni HR (mandor), MT (penjaga bak), serta BU dan IG yang bekerja sebagai sopir truk sewaan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Humas (Kabid Humas) Kepolisian Daerah Kalimantan Utara (Polda Kaltara), Komisaris Besar (Kombes) Pol Budi Rachmat.

Rachmat mengatakan,  lokasi tambang yang dikelola Hasbudi adalah ilegal karena tidak di bawah Surat Perintah kerja (SPK) dan Join Operation (JO) PT Banyu Telaga mas (BTM). Fakta tersebut terungkap setelah pihak kepolisian melakukan konfirmasi PT BTM, perusahaan penambangan emas di Bulungan pada 30 April 2022.

“Jenis pekerjaan yang dilakukan yaitu penambangan dan pengolahan material tanah menggunakan bahan kimia jenis CN untuk mendapatkan emas. Pengolahan dengan metode rendaman,” kata Budi.

Sejumlah barang bukti turut diamankan yaitu 3 unit eskavator, 2 unit mobil truk, 4 drum berisi sianida dan 5 karbon perendaman.

 “Dari hasil pemeriksaan saksi yang diamankan, menjelaskan bahwa pemilik tambang emas ilegal adalah H yang merupakan anggota Polri, dengan MI sebagai orang kepercayaan atau koordinator,” ujarnya. “Dari hasil pemeriksaan terhadap ahli minerba, disimpulkan bahwa perbuatan tersebut melanggar Pasal 158 jo Pasal 160 UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu bara,” tambah Budi.***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga