Korut Terus Kembangkan Kemampuan Rudal Balistik

PYONGYANG – Dalam aktivitas lanjutan pengujian balistik setelah jeda selama setahun, Korea Utara (Korut) telah menunjukkan senjata yang berpotensi berkemampuan nuklir. Ini menunjukkan bagaimana Pyongyang terus memperluas kemampuan militernya di tengah kebuntuan diplomasi dengan Amerika Serikat (AS).

Dua rudal jarak pendek yang ditembakkan Korut pada pertengahan Maret adalah provokasi pertama yang berarti sejak pelantikan Joe Biden.

Biden telah menyampaikan tanggapan terbatas atas peluncuran tersebut, dengan mengatakan akan ada tanggapan serius. Sementara Korut memilih untuk meningkatkan program rudalnya.

Sejak uji coba rudal dan nuklir Korut yang provokatif pada tahun 2016 dan 2017, sebagian besar fokus AS tertuju pada rudal balistik antarbenua yang menimbulkan ancaman langsung ke tanah Amerika.

Tapi, para ahli mengatakan, gudang senjata bahan bakar padat jarak pendek Korut yang semakin meningkat menimbulkan ancaman lebih serius, khususnya bagi dua sekutu AS, yakni Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Dan, peluncuran terbaru menggarisbawahi upaya Korut untuk meningkatkan kapasitasnya dalam mengirimkan serangan nuklir dan sistem pertahanan rudal yang luar biasa.

Media pemerintah Korut menyatakan, rudal yang ditembakkan adalah jenis baru “proyektil terpandu taktis” yang meminjam teknologi inti dari sistem sebelumnya.

Para pengamat mengatakan, Korut kemungkinan menguji versi yang ditingkatkan dari sistem yang meniru model rudal balistik seluler Iskander Rusia.

Lintasannya yang lebih datar dibandingkan dengan senjata balistik konvensional membuat mereka terbang pada ketinggian, di mana udaranya cukup padat untuk memungkinkan kemampuan manuver. Ketidakpastian membuat mereka lebih sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan rudal.

Militer Korsel membutuhkan waktu yang sangat lama untuk merilis penilaiannya pada peluncuran rudal itu, sebelum akhirnya menyatakan bahwa rudal tersebut terbang sejauh 450 kilometer.

Kim Dong-yub, seorang profesor dari Universitas Studi Korea Utara Seoul, mengatakan, perbedaan antara penilaian Korsel dan Korut mungkin menunjukkan betapa sulitnya sistem radar untuk melacak rudal ini secara akurat selama penerbangan.

“Bahkan, jika militer kami melakukan kesalahan, tidak masalah untuk saat ini. Sebab, mereka dapat dengan mudah menyesuaikan penilaian mereka setelah menganalisis data satelit. Tapi, bagaimana kamu akan melakukan itu di saat perang?” tanya Kim, seperti dilansir Tass.

Para ahli mengatakan, upaya Korut untuk mempersenjatai mereka dengan hulu ledak besar menunjukkan bahwa mereka dirancang untuk serangan nuklir.

Yang Wook, seorang ahli militer yang mengajar di Universitas Hannam Korsel menyebut, jika Korut berhasil mengembangkan sistem operasional, rudal ini akan memberikan kemampuan untuk meluncurkan serangan nuklir taktis terhadap pangkalan militer dan target strategis lainnya.

“Kami sudah lama mengatakan akan sulit bagi Korut a untuk memasang hulu ledak nuklir pada rudal (jarak pendek) jika gagal membuatnya kecil dan cukup ringan,” kata Yang.

Lee Choon Geun, seorang ahli rudal di Institut Kebijakan Sains dan Teknologi Korsel, mengatakan rudal tersebut akan menjadi ancaman besar bagi Seoul bahkan jika mereka dipersenjatai secara konvensional.

“Hulu ledak konvensional seberat 2,5 ton akan cukup untuk menghancurkan bunker yang dibangun dalam tanah. Kapasitas itu juga akan memungkinkan sesuatu yang lebih kuat daripada senjata nuklir taktis, mungkin perangkat termonuklir,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Duyeon Kim, seorang analis senior di Center for a New American Security yang berbasis di Washington, rudal baru Korut membuat AS dan Korsel perlu untuk mengembangkan respons yang efektif dengan kembali ke skala normal dan ruang lingkup latihan militer bersama, yang telah dirampingkan di bawah pemerintahan Donald Trump untuk memberi ruang bagi diplomasi.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp