International Media

Selasa, 4 Oktober 2022

Selasa, 4 Oktober 2022

Korban Tewas Terjangan Badai Tropis Megi di Filipina Bertambah Jadi 53 Orang

Banjir di Filipina

MANILA(IM) – Setidaknya 53 orang tewas akibat tanah longsor dan banjir setelah Badai Tropis Megi menghancurkan Filipina.
Tim penyelamat masih mencari korban selamat di desa-desa yang terendam banjir pada Rabu (13/4), menggali lumpur dan mengarungi air setinggi dada. Namun, jumlah korban tewas dari bencana alam yang melanda pada Minggu (10/4) diperkirakan hanya akan meningkat, kata para pejabat.
Desa-desa di sekitar Kota Baybay di provinsi Leyte tengah terkena dampak yang lebih parah.
Di sana, longsoran lereng bukit dan sungai yang meluap menyapu rumah-rumah dan mengubur banyak orang hidup-hidup. Wali Kota Baybay, Jose Carlos Cari mengatakan kepada CNN bahwa setidaknya 47 orang di daerah itu telah tewas.
Di satu desa, Pilar, sekira 80% rumah telah hanyut ke laut, kata seorang pejabat pemerintah kepada kantor berita AFP.
Badan bencana nasional Filipina juga telah melaporkan kematian di wilayah selatan Davao, Mindanao dan di provinsi Negros Orientals tengah.
Lebih dari 100.000 orang di pulau-pulau Filipina selatan dan timur telah terkena dampak badai, kata pihak berwenang sebagaimana dilansir BBC.
Banyak yang meninggalkan rumah mereka ke tempat perlindungan atau tempat yang lebih tinggi pada hari Minggu ketika badai, yang dikenal secara lokal sebagai Agaton, menghantam kepulauan itu dengan kecepatan angin hingga 65 km per jam.
Gambar-gambar yang diposting oleh Penjaga Pantai Filipina menunjukkan penyelamat membawa yang terluka dengan tandu melalui air setinggi dada dan mengangkut orang-orang yang selamat dengan rakit di jalan-jalan yang banjir.
Upaya penyelamatan terhambat oleh hujan terus-menerus, tetapi kondisinya agak mereda pada Selasa (12/4).
Megi adalah badai pertama yang melanda Filipina tahun ini. Negara itu biasanya melihat rata-rata 20 badai setiap tahun.
Badai Megi melanda sekira empat bulan setelah Topan Super Rai menghancurkan banyak pulau di Filipina pada Desember, menewaskan setidaknya 375 orang dan mempengaruhi sekira 500.000 orang.
Itu adalah badai terburuk yang melanda Filipina tahun itu dan para ahli mengatakan badai itu tumbuh lebih kuat jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
Sebelumnya, juru bicara badan bencana nasional juga mengatakan tanah longsor di sekitar kota Baybay telah meluas ke daerah di luar zona bahaya.
Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim yang disebabkan manusia telah menyebabkan intensitas dan kekuatan yang lebih besar dalam badai tropis. Filipina telah mengalami beberapa badai paling mematikan sejak 2006.
Filipina telah dimasukkan dalam daftar negara yang paling rentan terhadap bencana iklim karena geografinya.***

Frans Gultom

Komentar