International Media

Selasa, 29 November 2022

Selasa, 29 November 2022

Korban Tewas Perang Suku di Sudan Tembus 200 Orang

Ilustrasi Perang di Suidan

KHARTOUM(IM) – Sebanyak 200 orang tewas dalam dua hari pertempuran di negara bagian Nil Biru selatan Sudan. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya yang mencapai lebih dari 150 orang. Bentrokan di Nil Biru, yang berbatasan dengan Ethiopia dan Sudan Selatan, pecah pekan lalu setelah dilaporkan adanya perselisihan atas tanah antara anggota suku Hausa dan kelompok-kelompok yang bersaing.
Penduduk melaporkan ratusan orang melarikan diri dari tembakan senjata yang intens dan rumah-rumah serta toko-toko di bakar. Pertempuran memuncak pada hari Rabu dan Kamis hingga menjadi yang terburuk dalam beberapa bulan terakhir, mendorong gubernur provinsi untuk mengumumkan keadaan darurat pada hari Jumat.
“Dua ratus orang tewas di tiga desa di daerah Wad al-Mahi, sekitar 500 kilometer (310 mil) selatan ibukota Khartoum,” kata ketua majelis lokal Abdel Aziz al-Amin kepada televisi pemerintah.
“Beberapa mayat belum dikuburkan,” sambungnya, menyerukan kelompok-kelompok kemanusiaan untuk membantu pihak berwenang setempat menguburkan mereka yang tewas seperti dilansir dari Al Araby, Minggu (23/10).
Menurut keputusan provinsi hari Jumat yang dilihat oleh AFP, Gubernur Ahmed al-Omda Badi telah memerintahkan keadaan darurat di seluruh negara bagian Nil Biru selama 30 hari. Abbas Moussa, kepala rumah sakit Wad al-Mahi, mengatakan kepada AFP pada hari Kamis bahwa wanita, anak-anak dan orang tua termasuk di antara yang tewas.
Sebelumnya ratusan orang telah berdemonstrasi di ibu kota Nil Biru, Damazin, sebelumnya hari itu, meneriakkan: “Tidak untuk kekerasan”. Beberapa menuntut Gubernur Badi dipecat, menuduhnya tidak melindungi mereka.
Menurut PBB, dari Juli hingga awal Oktober, setidaknya 149 orang tewas dan 65.000 mengungsi di Nil Biru.
Suku Hausa yang telah dimobilisasi di seluruh Sudan, mengklaim mereka didiskriminasi oleh hukum suku yang melarang mereka untuk memiliki tanah di Nil Biru karena mereka adalah kelompok terakhir yang tiba di sana. Masalah akses ke tanah sangat sensitif di Sudan yang miskin, di mana menurut statistik PBB dan Bank Dunia pertanian dan peternakan menyumbang 43 persen pekerjaan dan 30 persen dari PDB.
Sudan telah bergulat dengan kerusuhan politik yang semakin dalam dan krisis ekonomi yang meningkat sejak kudeta militer tahun lalu yang dipimpin oleh panglima militer Abdel Fattah al-Burhan. Lonjakan kekerasan etnis dalam beberapa bulan terakhir telah menyoroti gangguan keamanan di Sudan sejak kudeta.
Menurut PBB sebanyak 546 orang tewas dan sedikitnya 211.000 terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam konflik antar-komunal di seluruh negeri dari Januari hingga September.

Frans Gultom

Komentar