Korban Tewas Demonstrasi Antikudeta di Myanmar Tembus 180 Orang

YANGON(IM) – Lebih dari 180 orang telah tewas oleh pasukan keamanan dalam beberapa pekan demonstrasi memprotes kudeta militer di Myanmar, kata kelompok aktivis. Negara-negara dunia dan organisasi Internasional semakin keras menyuarakan kecaman dan desakan agar kekerasan di Myanmar segera dihentikan.
“Korban meningkat secara drastis,” kata Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) dalam pernyataan Selasa (16/3) sebagaimana dilansir TRT World. Kelompok itu menambahkan bahwa lebih dari 180 orang telah tewas sejak kudeta 1 Februari.
Setidaknya 20 orang tewas pada Senin (15/3), menurut AAPP, menambahkan bahwa 74 orang tewas pada Minggu (14/3), hari paling berdarah sejauh ini.
Sementara sebagian besar kematian Senin adalah demonstran anti-kudeta, beberapa warga sipil yang “bahkan tidak berpartisipasi dalam protes” juga dilaporkan tewas, jelas AAPP.
PBB mengutuk kekerasan terbaru itu dan mengatakan setidaknya 138 orang telah tewas sejak 1 Februari.
“Ini termasuk 38 orang yang tewas kemarin (Minggu), mayoritas di daerah Hlaing Thayer di Yangon, sementara 18 orang tewas pada Sabtu (13/3),” kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan yang meminta komentar dan kantor berita Reuters mengatakan tidak dapat secara independen mengonfirmasi semua korban.
Sejauh ini para jenderal Myanmar tidak menunjukkan tanda-tanda mengindahkan seruan untuk menahan diri, dan pendukung pemimpin terpilih yang ditahan Aung San Suu Kyi tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dalam menghadapi kekerasan yang meningkat.
Sementara itu Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengecam kekerasan militer Myanmar terhadap pengunjuk rasa yang oleh Washington disebut “tidak bermoral dan tidak dapat dipertahankan”.
Kecaman ini disampaikan setelah pasukan keamanan junta membantai puluhan para pengunjuk rasa dengan peluru pada Minggu, hari paling berdarah sejak kudeta 1 Februari.
Para pendukung pemimpin terpilih yang ditahan Aung San Suu Kyi turun ke jalan lagi kemarin meskipun puluhan pengunjuk rasa tewas pada hari Minggu (14/3).
Dikutip Reuters,Selasa (16/3).
Pada Minggu malam, 38 pengunjuk rasa tewas di Hlaingthaya dan lokasi lain di Yangon akibat kekerasan oleh pasukan keamanan junta setelah para demonstran antikudeta menyerang pabrik-pabrik Tuongkok di negara itu. Seorang polisi Myanmar juga tewas dalam insiden itu.
Aset-aset Tiongkok di Myanmar jadi sasaran amukan para demonstran setelah Beijing dianggap terlalu meremehkan kudeta militer di negara Asia Tenggara itu.
Kedutaan Besar Tiongkok di Myanmar mengatakan banyak staf mereka terluka dan terperangkap dalam serangan pembakaran oleh penyerang tak dikenal di pabrik garmen di Hlaingthaya. Beijing telah meminta Myanmar untuk melindungi properti dan warga Tiongkok.
Media lokal melaporkan ketika asap membubung dari kawasan industri, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di pinggiran kota yang merupakan rumah bagi para migran dari seluruh negeri.
“Mengerikan. Orang-orang ditembak di depan mata saya. Itu tidak akan pernah meninggalkan ingatan saya,” kata seorang jurnalis foto di tempat kejadian yang tidak ingin disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters, Senin (15/3).
Darurat militer diberlakukan di Hlaingthaya dan distrik lain di Yangon, pusat komersial Myanmar dan bekas ibu kota.
Televisi Myawadday yang dikelola tentara mengatakan pasukan keamanan bertindak setelah empat pabrik garmen dan pabrik pupuk dibakar dan sekitar 2.000 orang telah menghentikan mesin pemadam kebakaran untuk menjangkau mereka.

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp