Kompolnas: Anak Muda yang Akses Situs Radikal Berpotensi Terpengaruh

Serangan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar mirip aksi teror bom di Surabaya.

JAKARTA – Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto mengatakan, anak muda yang mengakses situs radikal berpotensi terpengaruh. Hal itu disampaikan Benny dalam diskusi virtual Awas Sesat Milenial di Jagat Virtual, Minggu (4/4).

“Anak-anak muda kita yang dengan mudah mengakses situs radikal, kemudian berkomunikasi melalui medsos dengan teman-temannya, kemudian terpengaruh,” ujar Benny Beni menjelaskan,

Benny menjelaskan, umumnya setelah mengakses situs radikal, kemudian terjalin komunikasi yang intens. Setelah berkomunikasi, perekrut kemudian menggelar pertemuan. Pertemuan itu akan mempunyai dampak besar apabila anak muda tersebut mempunyai berbagai masalah. Misalnya, anak muda yang frustasi, putus pacar, hingga anak muda yang mempunyai masalah keluarga.

“Akhirnya mereka gabung dan menjadi bagian dari jaringan,” kata Beni.

Di sisi lain, anak muda yang bergabung dengan jaringan radikal biasanya tak lepas dari upaya pencarian jati diri. Hal itu terbukti dari beberapa kali wawancaranya yang dilakukan dirinya terhadap sejumlah anak muda.

Anehnya, anak muda tersebut justru lebih tertarik dengan situs yang sarat radikalisme ketimbang situs institusi negara yang fokus menangani tindak pidana terorisme.

“Ternyata situs-situs yang justru digandrungi oleh anak-anak muda itu isinya ternyata berisi hal-hal yang mengarah ke proses radikalisasi,” kata Beni.

seperti diketahui dalam sepekan ini, telah terjadi dua aksi aksi  teror di Indonesia. Pertama, aksi bom bunuh diri di Gerea Katedral Makasaar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Minggu (28/3) pagi lalu yang dilakukan Lukman bersama istrinya, YSR.

Kemudian, aksi terror yang dilakukan seorang perempuan berinisial ZA di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3).  ZA diketahui berusia 25 tahun tingga di darahah Ciracas, Jakarta Timur.

Pelaku bom bunuh diri di Makassar diduga merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke Negara Islam di Irak dan Suriah atau Islamis State of Iraq and Suriah (ISIS). Sementara, ZA, pelaku teror di Mabes Polri diduga pendukung ISIS. Dugaan itu berasal dari hasil pendalaman polisi yang menemukan unggahan bendera ISIS di akun Instagram milik pelaku.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp