Klaster Senam di Tasikmalaya, 47 Warga Puspahiang Dievakuasi

Ilustrasi

 TASIKMALAYA- Sebanyak 47 orang warga Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, dievakuasi ke Wisma Haji di Kecamatan Singaparna, untuk menjalani isolasi, Kamis (11/3). Puluhan orang itu diketahui terkonfirmasi Covid-19 dari klaster klub senam.
Sekretaris Kecamatan Puspahiang, Ayi Mulyana mengatakan, puluhan orang itu dievakuasi ke Wisma Haji setelah pihaknya berkoordinasi dengan unsur forum komunikask pimpinan kecamatan (forkopimcam). Mereka dibawa agar penyebaran Covid-19 di wilayah itu bisa diputus.
“Ada 47 orang. Kami sudah berkoordinasi, untuk memotong mata rantai, kami sepakat memindahkan ke Wisma Haji. Supaya terkontrol dan lebih mantap penanganannya,” kata dia, Kamis (11/3).
Sebanyak 47 orang yang terkonfirmasi posotif Covid-19 itu berasal dari klub senam di Kecamatan Puspahiang yang menjadi klaster penyebaran Covid-19. Namun, tak seluruhnya merupakan anggota klub senam, melainkan sebagian merupakan keluarga dari salah satu anggota.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi membenarkan adanya evakuasi kepada 47 orang tersebut. Proses evakuasi itu dilakukan dengan menggunakan 15 ambulans. Namun, setelah dilakukan skrining awal di Wisma Haji, sebanyak tiga orang dipulangkan lantaran sudah selesai melewati masa isolasi.
“Tadi semua dibawa ke Wisma Haji, tapi setelah dilakukan skrining awal, tiga orang dipulangkan karena sudah melewati masa isolasi. Jadi sekarang yang di Wisma Haji ada 44 orang,” kata dia saat dihubungi.
Menurut dia, puluhan orang itu sebelumnya menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing. Sebab, mayoritas adalah orang tanpa gejala (OTG).
Atang menjelaskan, berdasarkan pedoman yang ada, OTG dapat menjalani isolasi mandiri jika rumahnya memadai. Namun, belakangan terdapat sejumlah warga yang resah dengan adanya pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri.
“Dibawa ke Wisma Hajivkarena masih ada diskrimanasi tentang Covid. Mereka semua dijemput berdasarkan hasil musyawarah satgas kecamatan setempat. Mungkin ada sebagian warga yang resah,” ujar dia.
Ia menjelaskan, munculnya klaster itu bermula ketika ada klub senam di Kabupaten Tasikmalaya yang merayakan hari jadinya. Sebanyak 40 anggota klub senam itu berwisata di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, pada 14 Februari. Di Garut, klub senam itu juga bertemu juga dengab klub senam yang berasal dari Bandung.
Sepulang dari Garut, terdapat salah seorang anggota klub tersebut yang mengalami batuk pilek. Setelah diperiksa, orang itu dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.
“Baru ketahuan setelah pulang dari Garut. Kita sulit meyimpulkan klaster ini mulanya dari mana,” kata dia.
Dari awal satu kasus itu, petugas survailans melakukan pelacakan dan pengetesan kepada kontak erat. Hasilnya total ada 47 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Deni Ramdani Sagara mengaku menyayangkan munculnya klaster penyebaran Covid-19 dari klub senam. Menurut dia, kasus klaster klub senam itu menjadi hal yang kontradiktif.
“Senam itu kan harusnya menjaga kesehatan agar kita bugar dan imun kuat, tapi masyarakat belum sadar, kegiatan apapun termasuk senam, olahraga, kalau tak menerapkan prokes (protokol kesehatan), akan membuka peluang masuknya Covid-19,” kata dia. ***

Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp